Posts

DITUNJUK DAN DIVITAKOMPLI SEBAGAI KEPALA SEKOLAH

Image
Guru-guru laki SMP Dian Harapan Mentawai, Tangerang Gambar diambil awal tahun ajaran 2006/2007, dokpri Pada hari Selasa tanggal enam belas Mei dua ribu enam aku dipanggil untuk menghadap Dra. Surjaningsih Gunawan, M.Pd. , dan Ir. Lucky Tanubrata, M.Pd. Mereka adalah dua petinggi sekolah Dian Harapan yang bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup sekolah tersebut.   Ibu Gun, panggilan akrab dari Dra. Surjaningsih Gunawan, M.Pd. adalah Koordinator seluruh SDH. Sedangkan Pak Lucky adalah salah satu staff Yayasan Pendidikan Pelita Harapan di mana Dian Harapan bernaung; beliau juga adalah mantan Head of School DH Makassar. Setelah bertemu di ruang Ibu Gun, beliau langsung membeberkan maksudnya memanggilku . Ia menjelaskan semuanya setelah aku menempati kursi kosong di depan mereka. Aku hanya diam mendengarkan dan menyimak semua yang disampaikan. “Terus terang Pak, kami berdua mewakili tim Manajemen, meminta Bapak untuk menjadi Kepala SMP di Makassar,” kata Bu Gun tanpa basa...

KEJUTAN YANG MEMBANGGAKAN DARI BUNG!

Image
Foto dari Bung! Hari ini aku mendapatkan sesuatu yang membanggakan. Aku diberi kejutan karena ini adalah hari yang istimewa. Kejutannya tidak mewah tapi wah dan sangat membanggakan. Tak berharga tapi bernilai. Aku mendapat kejutan dari putra tunggalku. Putraku tidak sendiri, dia masih mempunyai seorang kakak. Tapi karena kakaknya perempuan dan dia satu-satunya laki-laki maka rasanya takkeliru kalau kubilang putra tunggal. Putra tunggalku ini biasa kami panggil BUNG sejak kecil. Yaitu sejak dia belum paham tentang hidup hingga saat ini. Sejak masih bayi aku sudah memanggilnya begitu dan akan seterusnya seperti itu. Panggilan itu kusematkan padanya sebagai upaya meneruskan warisan kebiasaan kami memanggil kakak laki-laki. Warisan kebiasaan ini hanya ada dan berlaku di masyarakat Indonesia Timur. Khususnya di Timor. Kejutan yang Bung berikan padaku tidak berupa benda berharga. Ia hanya berupa sebuah pesan melalui media WA. Pesannya yang tertera berupa sebuah gambar yang menampakka...

MERAYAKAN NATAL ALA KAMI

“Rufus, mau ikut Papa tidak?” “Ke mana, Pa?” “Ke hutan. Cari bambu untuk tatakan lilin. Penghias pohon natal di gereja.” “Mau. Sekalian, saya pengen cari bambu yang besar untuk bikin meriam. Kapan perginya, Pa?” “Sekarang. Siap-siaplah!” Aku persiapkan segala perlengkapan. Peralatan yang diperlukan untuk masuk hutan. Aku siapkan parang atau golok kecil dan pisau. Alat potong yang sesuai genggamanku. Aku hanya mengenakan celana pendek. Tanpa baju alias telanjang badan. Dan tanpa alas kaki pula. Lebih nyaman tanpa alas kaki. Kalau pakai sandal atau sepatu ribet. Jadi aku mau pergi temani papa ala tarzan saja. Tapi papa menegorku. Ia menyuruhku pakai baju. “Pakai kaos oblong yang tangan panjang. Supaya tidak digigit nyamuk. Di hutan nyamuknya banyak dan sangat ganas.” Aku menuruti nasihat papa. Kami tidak perlu membawa makan dan minum. Hutan tempat kami mencari bambu dekat dengan tempat tinggal kami. Cuma sepelempar batu jauhnya dari rumah. Tidak terlalu banyak mengeluarka...

HOW GOOD IS HIS ENGLISH?

“Kamu dipanggil Boss . Kepala Sekolah.” Kata temanku saat aku muncul di depan pintu ruang guru. “ Ngapain ?” Tanyaku menyelidik. Aku ingin tahu ihwalnya dia memanggil. “Entah? Pokoknya dia cari lewat sekretarisnya tadi. Katanya kalau kamu ada supaya segera menghadap.” Mendengar keterangannya yang detail dan serius, aku tak bisa mengelak. Aku mengambil waktu sebentar untuk istirahat. Kurapikan diri mulai dari kepala sampai telapak kaki. Beres. Aku menemuinya di ruang kepala sekolah. “Silakan!” Serunya sambil menunjuk kursi kosong di depannya. “Terima kasih, Pak!” Balasku sembari menutup pintu di belakangku. Aku melangkah maju ke hadapannya dan menempati kursi yang tersedia. Ia  berhenti menulis. Ia melepas kacamata yang sejak tadi digunakan. Ia lalu meletakkannya di atas meja. Perasaanku kacau dibuatnya. Wajahnya serius. Tidak seperti biasanya. Aku hanya duduk mematung menunggu kata-kata meluncur dari mulutnya. Entah kata-kata perintah atau ultimatum untuk menghukum. Aku...

SEKRETARIS

Pada suatu rapat Dewan Guru SMA Tunas Karya aku ditunjuk sebagai sekretaris. Aku divitakompli sebagai sekretais panitia Ebta/Ebtanas tahun akademik sembilan dua sembailan tiga. Itu suatu kehormatan tapi tantangan berat buatku. Tugas yang harus kuemban adalah menangani masalah surat-menyurat, menyiapkan laporan-laporan berupa uraian dan angka-angka. Aku terperangah mendengar keputusan itu. Persoalannya aku tak mampu mengoperasikan komputer. Melihat kegelisahanku, teman yang duduk persisi di sebelahku menyikut dan berkata: “Tenang Joy, terima aja .” Sarannya tanpa beban. Dia tidak tahu kalau aku seperti ditiban papan yang berjibun. Di luar ruangan baru aku jelaskan duduk masalahnya kepada temanku yang menyikut tadi, Drs. Rudi Buntoro. Aku memberitahukannya bahwa aku buta soal komputer. Aku belum pernah bekerja menggunakan mesin tulis kotak berkaca itu. “ Gimana gua bisa jadi sekretaris?” Begitu keluhku. Mendengar keluhan itu dia tidak berempati dan mengasihaniku. Ia justru mendo...

PASAR BARU

“Kamu bisa nggak , nyetir ?” Tanya lelaki hitam berambut keriting dari balik stir kepadaku. Ia adalah sopir sebuah angkutan umum. Mikrolet M 12. Mikrolet M 12 ini setiap harinya melalulalangi rute: Kota – Senen, via Harco Pasar Baru. Aku adalah salah seorang penumpang yang sering menggunakan jasa angkutan itu. Siang itu aku duduk di belakang sang sopir. Suatu siang yang merupakan hari naas. Tapi juga bermakna historis bagiku. Kenapa merupakan hari naas sekaligus bermakna historis? Sila menelusur alur tuturku berikut! Aku mengajar di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Mengajar Olahraga. Tempat tinggalku di Kota, Jakarta Barat. Masuk sekolah pukul tujuh pagi. Pulang jam 13.30. Waktu tempuh sekitar satu jam. Berarti setiap hari aku menghabiskan waktu di perjalanan kurang lebih dua jam. Itu kalau jalanan lancar. Kecuali hari Minggu dan hari libur. Kebiasaanku menghabiskan waktu di perjalanan di atas angkutan umum ini adalah membaca atau tidur. Tergantung kondisinya. Kalau berangkat p...

BELAJAR FOTOGRAFI

Pertama kali aku memegang dan menggunakan kamera pada tahun tujuh delapan. Kamera ini aku pinjam dari Papa. Aku pinjam untuk memotret ‘orang besar’ dari ibukota RI. Orang nomor satu yang mengatur kemaslahatan pendidikan Indonesia. Aku sudah lupa mereknya. Tetapi yang jelas kuingat adalah kamera itu semi-auto. Semi fokus. Kamera Papa ini kecil ukurannya. Tapi bukan kamera poket. Lensanya tidak bisa dibongkar pasang. Dia tetap seperti itu di situ sampai ajal menjemput.   Di lensanya tertera gambar gunung artinya untuk pemandangan atau pengambilan gambar jarak jauh. Ada gambar dua orang artinya untuk pengambilan gambar jarak sedang. Dan ada terpampang gambar satu orang setengah badang berarti untuk jarak dekat dan close up . Waktu itu sekolahku, SMP Negeri II Kupang sedang kedatangan seorang tamu agung dari Jakarta, Dr. Daoed Yoesoef. Ia berkunjung ke sekolah kami dengan kapasitas sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia. Maka aku meminjam kamer...