PERKENALANKU DENGAN TILONG
![]() |
| Perkenalan: beritasatu.com. |
Sekitar akhir tahun 2013, seusai ibadah minggu aku berkenalan dengan seorang teman. Kami bercakap-cakap tentang banyak hal mengenai diri masing-masing. Di antaranya tentang pekerjaan, keluarga, tempat tinggal, kecenderungan kesukaan, dan lain-lain.
Temanku ini bernama
Agus. Dia berasal dari Jawa Tengah. Dia sudah berkeluarga dengan dua anak. Anak
yang besar ada di Jawa sedangkan yang kecil ada bersamanya. Istrinya berdarah Batak
yang berasal dari tanah Sumatera. Sumatera Utara, tepatnya.
Dia dan istrinya adalah guru.
Selain sebagai guru, ia pun adalah pendiri sebuah sekolah keagamaan tingkat
menengah. Rumah mereka di sekitar sekolah itu yang berlokasi di Tilong. Sekolah
itu berfungsi sebagai tempat belajar dan juga sebagai asrama bagi para
muridnya.
Sekolahnya adalah SMTK
atau Sekolah Menengah Teologi Kristen. Ia adalah sebuah lembaga pendidikan yang
memfokuskan diri pada penyiapan para calon Teolog muda. Sesudahnya mereka bisa
melanjutkan pendidikannya di STT (Sekolah Tinggi Teologia). Atau program studi
lain sesuai minat.
Karena ia setingkat SMA
maka ia menerima dan menampung mendidik anak-anak dari jenjang SMP. Kini
sekolah itu tinggal puing-puing gedung karena ketiadaannya murid. Sejak tahun
2015 sekolah itu ditutup sebab tidak ada calon peserta didik yang mendaftar.
Dari saling bercerita
itulah ia tahu bahwa aku belum memiliki rumah. Dia akhirnya tahu juga kalau aku
adalah seorang kontraktor. Yaitu orang yang selalu berpindah-pindah rumah.
Kesukaan pindah-pindah rumah bukan karena kebanyakan rumah. Tetapi harus pindah
kalau masa kontraknya habis.
Ia pun mengajakku
bertandang ke rumahnya di Tilong. Sebuah tempat yang belum pernah kusambangi.
Bahkan namanya pun baru pernah kudengar dan tahu hari itu. Mendengar
penjelasannya tentang posisi tempat itu yang membuatku tambah bingung, ia
mendakwaku untuk berangkat bersamanya.
Kami menempuhnya dalam
waktu empat puluh lima menit dengan kecepatan normal. Rata-rata kecepatan pacu
motor 40-50 km/jam. Dengan kecepatan sedang itu, aku bisa mengenal dan menandai
tempat mana saja yang telah aku lalui. Ini kumaksudkan agar mudah menelusurinya
kembali suatu ketika kelak.
Sesudah kunjungan
pertama itu aku jadi terus-terusan ke Tilong. Keseringanku ke sana bukan
bersebab hidangan suguhan temanku, Pak Agus. Tapi karena aku telah menjadi
warga masyarakat Tilong. Aku telah mencatatkan diri sebagai penduduk tetap
Tilong.
Aku mencatatkan diri
sebagai salah seorang anggota masyarakat Tilong sejak tanggal 15 Agustus 2015.
Aku menempati gubuk kecil yang kubangun seadanya semampunya. Yang paling penting
adalah aku tidak lagi menjadi kontraktor. Dan tidak dikejar-kejar waktu untuk
mengosongkan dan meninggalkan rumah kontrakan.
Biasanya aku hanya
membutuhkan 10 sampai 20 menit untuk ke tempatku mengais rejeki ketika masih di
Kupang sebagai seorang kontraktor. Kini aku harus menghabiskan waktu dua kali
lipat setelah berdomisili tetap di Tilong. Tidak mengapa. Itu bagian dari
sebuah perjuangan hidup.
Memang tidak ada hidup
yang susah sekali. Sebaliknya juga tidak ada yang gampang-gampang bangat. Ia
butuh sebuah ikhtiar, perjuangan demi memperolehnya. Apalagi jika perjuangan
itu bertautan dan selaras dengan kehendak Sang Khalik, ia tak pelik.
Tabe, Pareng, Punten!
Tilong-Kupang,
NTT
Minggu, 22 Agustus 2021 (16.35 wita)

Luat biasa selain penulis , kontraktor juga Kereeeeen
ReplyDeleteTerima kasih Maddam, sudah membaca n tinggalkan jejak. Begitulah adanya. Gb!
Delete