QUANTITY & QUALITY

Apa itu quantity? Apa itu quality? Mana yang lebih penting dan prioritas? Penting atau tidak dua kata itu dalam kehidupan? Paling tidak dalam kehidupan pribadi saya sebagai orang per orang, sebagai anggota masyarakat dan/atau sebagai seorang guru. Perkenankan saya mengurainya satu per satu. Sekiranya pembaca mempunyai opini sendiri yang lebih mumpuni baiklah kita diskusikan dan sarikan menjadi sesuatu yang mencerdaskan banyak orang, mencerdaskan anak bangsa.

Untuk mendapat pemahaman yang lurus laras, saya membuka mencari akurasi artinya di kamus. Dan kebetulan ada Cambridge Advanced Learner’s Dictionary kepunyaan anak saya. Dia dan teman-temanya seangkatan, mereka adalah anak-anak milenial yang memiliki pengetahuan lebih baik dari saya. Karena sejak kecil mereka telah diperkenalkan dengan bahasa asing. Minimal bahasa Inggris. Jadi selain menggunakan kamusnya, saya juga berdiskusi dengannya mengenai ihwal ini.

Lema quantity & quality dalam kamus ini berada di tempat yang sama yaitu di halaman seribu tiga puluh lima. Pengertian quantity dijelaskan begini: “The amount or number of something, especially that can be measured or is fixed.” Sedangkan quality ada dua arti. Yang pertama diuraikan seperti ini: “How good or bad something is.“ Pengertian kedua dari kata yang sama adalah: “A characteristics or feature of someone or something.

Setelah kami, saya dan anak saya berdiskusi (lebih tepatnya saya mendapat masukan) saya coba meramu makna dari kedua kata tersebut demikian: 1. Quantity atau kuantitas adalah jumlah dari sesuatu yang dapat diukur. 2. Quality atau kualitas yang pertama adalah: Bagus tidaknya sesuatu; kualitas yang kedua adalah: Karakteristik (cirikhas) atau bagian terpenting dari seseorang atau sesuatu.

Setelah mendapat masukan dari anak saya seperti yang sudah saya uraikan di atas, saya masih penasaran. Maka secara diam-diam tanpa sepengetahuannya saya mengecek kebenaran pengertian kedua kata tadi di KBBI. Saya sengaja melakukannya tanpa dia tahu supaya dia tidak merasa energinya yang terkuras sia-sia. Atau jangan sampai dia berkecil hati dan berpikir bahwa saya tidak mempercayai dan/atau mengakui kekayaan pengetahuan yang dimilikinya. Dalam hati kecil saya merasa bersalah, tapi demi sebuah kebenaran saya terpaksa melakukannya.

Saya mencari kedua lema tersebut dan mendapatkannya di halaman enam ratus tiga. Dan ketika saya baca simak secara teliti ternyata tidak berbeda. Memang substansi akan sama karena sumbernya adalah kamus. Tapi yang buat saya kagum adalah terjemahan yang disampaikan anak saya pas, tidak meleset. Untuk itu biar saya salinkan kedua pengertian yang terurai tersurat di sana – KBBI – supaya Anda, pembaca tidak merasa saya bohongi. Demikian: Kuantitas – banyaknya (benda, dsb.); jumlah (sesuatu). Kualitas – tingkat baik buruknya sesuatu; kadar.

Kenapa saya tergelitik untuk menulis ini? Karena ada dua hal. Pertama, kata-kata dari Master Emcho dalam pemaparannya tentang Menulis di Waktu Sibuk. Beliau mengatakan: “Quantity produces quality – kuantitas menghasilkan kualitas.” Yang kedua, saya pernah mendengar seseorang berkata: “Quantity is not quality – kuantitas bukanlah kualitas.” Kedua kutipan ini cukup mengganggu kenyamanan berpikir dan keseimbangan rasa saya. Karena keduanya memiliki argumentasi yang menakjubkan tapi bertolak belakang.

Master Emcho berkata, menulislah setiap hari dan buatlah tulisan yang banyak. Karena dari banyaknya karya tulis akan menghasilkan tulisan-tulisan berkualitas. Menulis itu sebuah proses jadi jangan berhenti menulis kalau ingin memiliki karya tulis bermutu. Tulisan yang berkualitas dihasilkan dari banyaknya latihan menulis. Atau dengan kata lain, semakin banyak menulis akan menghasilkan tulisan berkualitas.

Argumentasi dari kutipan kedua adalah jumlah yang banyak tidak mencerminkan hasil bermutu. Untuk memperkuat argumentasinya dia beri contoh, sebuah institusi pendidikan yang meluluskan banyak tamatan bukan berarti lembaga itu bermutu atau berkualitas. Atau orang yang banyak bicara belum tentu omongannya berkualitas. Karenanya dia berkesimpulan bahwa kuantitas bukanlah kualitas.

Secara pribadi saya mengagumi dan menghargai kedua argumentasi tersebut. Dan menurut saya keduanya harus dipadupadankan. Berarti pertanyaan mana lebih penting dan prioritas gugur dengan sendirinya. Karena hidup ini perlu kuantitas dan juga kualitas tapi kuantitas yang berkualitas. Artinya keduanya penting. Sebab jika memiliki banyak tapi tidak berkualitas tidak akan berarti apa-apa. Sebaliknya berkualitas tapi sedikit juga akan mendapat respon dan reaksi yang sama. Tidak ada gaungnya atau gaungnya lemah sehingga tidak bergema.

Maka menurut saya lagi, janganlah memusatkan perhatian pada kuantitas dan/atau kulaitas. Kuantitas dan kualitas adalah akibat dari sebuah proses. Maka mari berfokus pada proses. Proses yang baik berkualitas akan berlabuh pada jumlah hasil yang banyak dengan mutu terbaik. Proses yang bermutu akan menghasilkan kuantitas berkualitas. Proses berarti suatu keadaan yang berlangsung secara terus menerus dan berkesinambungan. Proses itu tidak berhenti, tidak terputus. Tiada berakhir.

Proses itu diisi dengan perlakuan tertentu yang terus-menerus. Seorang pemusik berproses dengan berlatih bermusik hingga menghasilkan pertunjukan memukau. Seorang aktor berproses dengan berakting senantiasa hingga memperoleh adegan yang natural. Demikian pun seorang penulis berproses dengan selalu menghasilgoreskan pemikirannya hingga membuahkan karya tulis yang laikbaca. Dengan demikian, berproses merujuk pada suatu ajang latihan tak berkesudahan hingga menghasilkan kuantitas karya berkualitas. 

Menyangkut proses sebagai suatu ajang latihan, Deddy Corbuzier pernah berkata: “Perfect practice makes perfect – latihan dengan cara yang benar menghasilkan hasil sempurna.” Menulis pun sebuah proses. Maka Budiman Hakim yang akrab disapa Om Bud ketika memaparkan materi Menulis Tanpa Ide secara blak-blakan berkata, menulis adalah sebuah proses yang panjang dan tidak bisa ditempuh secara instan.

Oleh karena itu, saya berusaha dan berjuang keras untuk tidak lagi mengarahkan pandang pada kuantitas dan/atau kualitas semata. Tapi saya memaksaberanikan diri berfokus pada proses yaitu berlatih menulis terus-menerus tanpa henti tanpa jemu dengan cara yang benar hingga pada suatu saat kelak akan menghasilkan kuantitas karya tulis berkualitas, artinya sempurna. Sebab saya ingin membuktikan kebenaran frasa ini: Proses – yang benar – tidak akan menghianati hasil. Semoga!         
      

Yolis Y. A. Djami (Tilong-Kupang, NTT)
Senin, 11 Mei 2020 (15.00 wita)

Comments

  1. Orang cenderung terjebak dalam dua ekstrim yang berbeda, satu mengagungkan kualitas, yang lain mengejar kuantitas. Proses cenderung diabaikan karena memang berproses tidak mudah dan tidak nyaman, fokus kita seringkali lebih terarah pada hasil, baik kualitas atau kuantitas.

    Tulisan ini menarik sekaligus menantang. Ini adalah pengingat yang baik bagi saya. Tulisan ini mendorong saya untuk berkata pada diri: "Mari berproses!"

    Terima kasih, Penulis budiman!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

BERIRING

AKU ADA SEBAGAIMANA AKU ADA KARENA MEREKA ADA BAGIKU

CINTA=KENTUT