PENTIGRAF


I.              Pengantar
Malam ini, Sabtu tanggal 28 Maret 2020 Ibu Rosianafe akan menyampaikan materi cerita 3 paragraf. Silahkan disimak baik baik.
“Kepada ibu Rosianafe kami persilakan.”
“Terima kasih, Om Jay.”

II.           Materi Pembelajaran
Selamat malam, Bapak/Ibu Guru. Malam ini saya akan mengulas sedikit ilmu tentang pentigraf. Pentigraf adalah akronim dari cerpen tiga paragraf (alinea). Bukan sebarang tiga paragraf yang datar, melainkan ada kesimpulan di akhirnya, bahkan dibumbui dengan akhir yang manis atau menyedihkan.

Menurut DR. Tengsoe Tjahjono, penggagas pentigraf, yang kemudian disebut sebagai Presiden Kampung Pentigraf Indonesia, cerpen tiga paragraf ini merupakan cerita yang utuh. Menurut beliau, pentigraf termasuk fiksi mini yang hanya dibatasi 3 paragraf. Ciri-cirinya:
1. Panjang tulisan adalah 3 paragraf.
2. Satu paragraf hanya memiliki satu gagasan pokok.
3. Secara teknis penulisan di komputer: satu paragraf satu kali ENTER.
4. Sebagai cerpen, pentigraf memiliki ciri-ciri narasi, yaitu:
a. Alur (ada konfliknya)
b. Tokoh (yang menggerakkan alur)
c. Topik (persoalan yg dialami tokoh)
d. Latar (waktu, tempat, dan suasana)

Proses Kreatif
Ide bisa diperoleh dari mana saja, terlebih dari pengalaman pribadi. Ide tersebut tidak dituangkan mentah-mentah seperti curahan hati atau menulis berita. Ide dikelola menjadi sebuah cerita baru yang menarik dalam kemasan dan bahasanya. Pentigraf boleh diawali dengan memunculkan konflik atau solusi atau pengenalan karakter tokoh. Endingnya pun beraneka macam. Ada yang membahagiakan, ada yang menyedihkan, ada pula yang twist atau memberikan kejutan.

Dialog dalam pentigraf diminimalkan, diubah dalam bentuk narasi atau deskripsi. Namun, dialog diperlukan juga sebagai bumbu agar cerita tidak hambar sebagai kejutan tak terduga bagi pembaca. Menurut Dr. Tengsoe, paragraf jangan terlalu panjang dan jangan terlalu banyak percakapan. Dalam paragraf maksimal hanya satu kalimat langsung. Panjang pentigraf sekitar 210 kata. Kalimat langsung pada paragraf kedua cukup satu saja. Intinya, jangan panjang-panjang, ringkas saja.

Yang perlu diperhatikan dalam menulis pentigraf adalah keringkasan. Anda mungkin bisa berpanjang-panjang kata untuk menyampaikan sebuah cerita. Namun, dalam flash fiction termasuk pentigraf Anda mencoba meringkas sebuah cerita ke dalam sebuah kotak kecil yang imut dan menarik hati. Ibarat Anda harus menuturkan sebuah kejadian ketika pulsa telepon Anda tinggal beberapa rupiah saja.

Struktur Cerita
Struktur sebuah pentigraf adalah permulaan, tengah, dan penutup. Setiap bagian ini isilah dengan pembeda. Kisah harus terus bergerak maju lengkap dengan konfilk dan resolusi. Paragraf kedua berisi alur, di dalamnya konflik yang dialami tokohnya. Hanya ada satu kalimat langsung. Dialog lainnya dinarasikan saja. Paragraf ketiga berupa resolusi atau kesimpulan. Ada twist atau kejutan di akhir kisah. Ini bumbu rahasia Anda, kejutan tidak terduga. Hal ini bisa membuat orang ingin membaca lagi dari awal. Di paragraf terakhir buatlah kesimpulan yang menarik dan berkesan sehingga mudah diingat oleh pembaca.

Saya dapat tips dari guru pentigraf saya, Queen Erni seperti ini.
Tata Cara Menulis Dialog yang Benar
1. Penggunaan tanda titik di akhir dialog.
Contoh salah: “Aku yakin dia pemenangnya”.
Yang benar: “Aku yakin dia pemenangnya.”
2. Tanda baca ditempatkan sebelum tanda kutip di akhir dialog. Apabila diiringi narasi, maka ketentuannya seperti ini :
Contoh salah: “Dia memang sangat berbakat.” menatap Bayu kagum.
Yang benar: “Dia memang sangat berbakat.” Menatap Bayu kagum.
Apa yang membedakannya? Huruf awal narasi. Huruf awal narasi harus di dahului oleh kapital.
3. Jika narasinya berada di awal, maka ketentuannya seperti ini.
Contoh salah: Andi tersenyum, “Kamu adalah sahabat terbaik.”
Yang benar: Andi tersenyum. “Kamu adalah sahabat terbaik.”
Perbedaannya apa? Penggunaan tanda baca. Yang pertama kenapa salah? Kan, huruf awal dalam dialognya udah bener, pake kapital? Emang, sih. Tapi, penulis menggunakan tanda baca koma (,) yang seharusnya titik (.)

Contoh Pentigraf 1

KENAPA SAYA BERTAHAN NAIK OJEK SAAT BERANGKAT SEKOLAH?

Ada mobil jemputan sekolah, kenapa saya malah memilih naik ojek? Pertanyaan itu tidak hanya sekali saya dengar. Bahkan, beberapa teman dan guru pernah bertanya soal itu kepada saya. Tapi, saya tetap bergeming. Naik ojek pulang dan pergi ke sekolah adalah pilihan terbaik.
Naik ojek itu tidak harus bangun pagi karena penumpang yang diantar hanya saya sendiri, tidak harus putar-putar jemput penumpang lain. Tempat duduk juga lega karena bangku penumpang untuk saya seorang. Naik ojek juga luwes menerobos kemacetan. Pulang sekolah lebih enak lagi, saya ditunggui seperti punya sopir pribadi karena saya langganan ojek.
Saya tidak bosan naik ojek, bahkan saya sudah melakoni naik ojek sejak kelas 1 SD sampai SMP sekarang ini. Asyiknya, ojek saya tidak mau dibayar dan saya tidak terpikir untuk membayarnya. Sebab, ojek saya adalah bapak saya sendiri. Dia ojek pangkalan dan saya bangga bisa bersekolah berkat profesi bapak yang unik dan mulia itu.

Pentigraf tersebut sangat simpel. Kata-katanya mudah dipahami anak-anak. Jelas, itu fiksi alias sekadar cerita rekaan. Meskipun demikian, anak-anak suka dengan cerita itu. Lantas, apa rahasianya cerpen tiga paragraf itu disukai? Ada bumbu rahasianya. Tengok paragraf pertama. Yakinkan bahwa bagian itu harus menarik, bikin penasaran, sampaikan problem atau topik. Tengok paragraf kedua. Pada bagian ini sampaikan argumen. Pilih argumen yang kuat, tidak klise, dan pakai kalimat pendek-pendek. Karakter tokoh bisa terbaca pada bagian ini. Tengok juga paragraf ketiga. Pilih kalimat kesimpulan yang paling berkesan. Berusahalah memasukkan twist hingga pembaca terkesima atau malah tertawa.

Cocok ya cerita itu untuk anak SD-SMP? Nah, bagaimana untuk anak SMA/SMK?
Ini contoh dari guru pentigraf saya lagi, Pak Taufik Sudjana. Contoh pentigrafnya.

LAMPU MERAH JAMBU DUA
Taufiq Sudjana

Lampu merah menghentikan semua kendaraan. Di simpang empat Jambu Dua, hujan masih belum reda. Tiba di sampingku seorang bocah basah kuyup menengadahkan tangan.
“Kamu sekolah di mana?” Sambil merogoh saku jaket, aku tanya bocah yang menghampiriku.
Bocah itu lari seketika bersama sekelompok orang yang berhamburan. Nampak di antara mereka yang mengacungkan clurit, samurai, dan ada yang memutar rantai berbandul gir. Apakah ini jawaban pertanyaanku tadi? Dia bersekolah di jalanan yang mengajarkan kekerasan dan tawuran. (Buitenzorg, 21 Januari 2020).
Singkat bukan? Tapi ending-nya "nendang." Butuh latihan untuk bisa menulis seperti ini.
Kalau untuk orang dewasa bagaimana? Hm, saya carikan contoh lain ya.

MENEBANG POHON ARA
Siwi Dwi Saputra

"Aku nggak tahu harus bagaimana, Mbak," katanya terisak. Perempuan cantik itu bercerita tentang perkawinannya yang sedang diterpa badai. Secara tak sengaja dia mendapati bukti-bukti suaminya berselingkuh.
Pada suatu ketika, suaminya pamit pergi ke luar kota untuk urusan dinas. Sebagai istri yang baik dia percaya sepenuhnya. Sampai akhirnya tiga bulan kemudian, dia mendapati nota pembayaran di sebuah hotel di kota Y pada tanggal suaminya berkata dinas ke kota X. Dia limbung. Tak percaya. "Haruskah aku meminta cerai?" tanyanya padaku. 
Sebagai orang luar aku hanya bisa memberikan nasehat yang kuanggap bijak. Kuminta dia bersabar, memperbaiki dulu keadaan dan tunggu beberapa waktu. Rajin-rajinlah menyiangi, menyirami dan memupuk. Tunggu apa dia mampu menghasilkan buah. "Jangan tebang dulu pohon aranya!"
Tema Perselingkuhan pada hidup perkawinan dewasa ini sungguh menjadi bayang-bayang menakutkan bagi kelanggengan hidup berumah tangga. Perselingkuhan selalu berakhir pada kehancuran mahligai suci tersebut.

Yang menarik dari pentigraf ini justru nasihat yang diberikan ‘aku’ kepada tokoh perempuan yang mengetahui bahwa suaminya telah melakukan perselingkuhan. “Jangan tebang dulu pohon aranya!” Begitu nasihat yang diberikan. Mengapa? ‘Aku’ meminta perempuan itu melakukan sesuatu, yaitu menyiangi, menyirami, dan memupuk, untuk mengetahui apakah pohon ara itu bisa berbuah. Ini mungkin merupakan nasihat bijak yang ideal yang tidak mudah dituruti oleh si perempuan. Dalam kondisi seperti itu pengampunan akan sangat sulit dilaksanakan.

Oleh karena itu pentigraf ini sengaja diakhiri dengan pola terbuka. Ending-nya diserahkan kepada pembaca. Beranikah perempuan itu membiarkan pohon ara itu tumbuh, atau malah menebang dan membakarnya? Pembaca pun diajak memberikan jawaban sesuai dengan pandangan masing-masing. Ending seperti itu menjadi daya pikat lain dari pentigraf ini.

Nah, saya pikir materinya sudah cukup ya, Bapak/Ibu. Tinggal praktiknya saja. Ada yang mau mencoba menulis pentigraf?


III.        Tanya Jawab
Pertanyaan 1: “Ciri2 pentigraf apa?
Ciri-cirinya:
1. Panjang tulisan adalah 3 paragraf
2. Satu paragraf hanya memiliki satu gagasan pokok.
3. Secara teknis penulisan di komputer: satu paragraf satu kali ENTER.
4. Sebagai cerpen, pentigraf memiliki ciri-ciri narasi, yaitu:
a. Alur (ada konfliknya).
b. Tokoh (yang menggerakkan alur).
c. Topik (persoalan yg dialami tokoh)
d. Latar (waktu, tempat, dan suasana).
Pertanyaan 2: “Pentigraf adalah cerpen dengan dibatasi 3 paragraf yang harus simpel tapi utuh, menarik dan minim kalimat langsung. Benarkah simpulan? Bagaimana kita membandingkan cerita untuk anak remaja dan dewasa? Dalam pentigraf apakah alurnya harus maju? Strategi untuk mencari rahasia atau twist? Minimal berapa kalimat dlm setiap paragraf?

Betul, Om. Tambahkan lagi, ada twist di akhir cerita. Cerita anak disesuaikan dunia anak, menggunakan bahasa mapun isi yang sederhana sehingga mudah dipahami dan diimajinasikan anak. Karena pada dasarnya anak-anak masih memiliki pemikiran sederhana. Untuk cerita yang lebih dewasa menggunakan bahasa yang kompleks. Selain itu, dari segi alur cerita juga mempunyai perbedaan. Alur cerita anak lebih sederhana. Biasanya, alur cerita anak memunculkan konflik yang kecil dan sederhana pula. Misalnya, cerita mengenai kancil mencuri mentimun. Hal ini juga disesuaikan dengan tingkat pola pemikiran anak yang masih sederhana sehingga anak mudah memahami inti dari cerita. Akan lebih mudah untuk menulis cerpen singkat ini dengan alur maju. Hal ini dikarenakan terbatasnya jumlah paragraf yang bisa dituliskan di dalamnya. Paragraf akhirnya kan berupa kesimpulan.

Pertanyaan 3 dari Raja Demagog: “Dalam pentigraf, konfliknya ada di paragraf keberapa, bu?
BERSEMI SEINDAH TAMAN BUNGA

"Berpikirlah sebelum menerimanya." Kalimat yang selalu bibi sampaikan padaku, tidak mudah untukku menentukan pilihan disaat hati tertaut pada yang lain.
Dia memang tampan, mapan dan bertanggung jawab, perang batin terus menyerangku namun tetap kupasrahkan kepada Allah Sang pemilik rencana terbaik. Hingga pilihanku jatuh padanya demi hubungan keluarga yang tak terkoyak.
Awal yang penuh airmata dan doa, badaipun berlalu, tetap kujalani lika-liku hidup dengannya hingga cinta bersemi seindah taman bunga.
Setiap penulis memang biasanya memiliki ciri khasnya sendiri dalam membuat sebuah cerita. Dengan berlatih lebih banyak maka Anda akan menemukan cara yang tepat dalam menulis cerita. Tidak ada batasan kalimat, patokannya kalimat ringkas, minim dialog, hanya ada patokan jumlah paragraf harus 3.

Pertanyaan 4: “Untuk sudut pandang dalam bercerita kalau menggunakan sudut pandang orang 1 sebagai pelaku bisa juga? Apakah termasuk dalam cerita pengalaman  diri?
Konflik ada di paragraf kedua. Di sini bisa kita sisipkan satu kalimat langsung saja, ya. Paragraf pertama dan kedua berupa narasi (tanpa dialog). Bisa saja. Banyak penulis menjadikan pengalamannya sebagai ide menulis sehingga banyak pula orang mengira kalau isi cerita kisah nyata. Padahal, yang namanya cerita fiksi itu tidak murni kisah nyata.

VIRUS CORONA PENGHAMBAT

Virus corona penghambat pulang ke kampung, rasa sedih membuat tak berdaya. Sang anak tiba-tiba menelponku.

 "Kenapa kamu menangis?" Sambil sesenggukan menelponku.

Anak kecil itu bersedih karena tidak lagi seperti biasa, sekolah diliburkan, main tidak pernah, jajan pun tidak berani. Dan teramat menyedihkan kangen kampung halaman bakalan tak akan terobati.
Sudah terpenuhi syarat 3 paragrafnya, nanti masalah editing di sini banyak suhu yang bisa membantu. Kesimpulan di akhir sudah ada, sedih, nanti tinggal diedit lagi tata tulisnya.

Pertanyaan 5 dari Raja Demagog: “Bolehkah dalam akhir pentigraf kita selipkan quote?
Saya pikir quote ciptaan sendiri boleh. Akan tetapi, quote milik orang lain saya tidak tahu, apakah itu termasuk pelanggaran hak cipta atau bukan.

SISTEM MAGANG DI SMK

Perkembangan teknologi yang pesat menyebabkan program pendidikan selalu ketinggalan dengan proses perubahan yang terjadi di masyarakat. Hal ini yang menyebabkan ketidakpuasan dunia kerja atau industri terhadap lulusan SMK bukan akibat sistem belajar mengajar di sekolah menengah kejuruan tidak bermutu. Perkembangan yang sangat pesat di bidang teknologi, mengharuskan industri atau dunia kerja selalu menyesuaikan peralatan, baik macam maupun karakteristik pengoperasiannya. 
Pakar pendidikan mengatakan bahwa sekolah menengah kejuruan yang memiliki fasilitas praktek kuat, lengkap sekalipun paling hanya dapat bertahan sekitar 5 sampai 8 tahun untuk dapat memenuhi kebutuhan tenaga siap pakai di industri. Industri selalu melangkah lebih dahulu dalam menggunakan teknologi baru.
PSG (Pendidikan Sistem Ganda) adalah satu bentuk Training/ Kerja Magang yang dilakukan oleh siswa SMK. Hal ini dilakukan untuk memberi bekal pengetahuan kepada mereka tentang situasi dan kondisi yang nyata di lingkungan industri/ instansi. Dengan PSG, siswa diharapkan dapat memperoleh pelajaran secara langsung dari industri/ instansi, sehingga apabila mereka telah menyelesaikan studinya di jenjang SMK, siswa dapat langsung terjun ke dunia kerja tanpa harus mengalami kesulitan, sebab sebelumnya dia telah mendapatkan pengalaman bekerja di industri/ instansi. Oleh: Sarastiana, Kab.Banjarnegara Jateng.

Maaf ini tidak jelas mana paragraf 1, 2, dan 3 nya

Sore itu langit mulai gelap, pertanda hujan akan segera tiba. Bergegas ku giring kambing-kambingku untuk kembali ke kandang.
Salah satu dari mereka ternyata ada yang tertinggal, hingga membuat induknya kebingungan dan kembali berlari ke tanah lapang. Aku pun ikut berlari mengejarnya. Sementara langit semakin gelap dan kilat pun mulai menyambar. Angin berhembus cukup kencang disertai rintikan hujan. 
Si induk akhirnya menemukan kembali anaknya, segera ku giring keduanya kembali ke rumah dengan berlarian. Saya dan piaraanku harus berpacu dengan hujan yang sudah mulai deras mengguyur bumi. Akhirnya aku dan kambingku sampai di rumah dengan selamat meskipun sedikit basah kehujanan. Oleh: Agus Purwadi, SMP 4 Ponjong, GK MBA.

Meledak amarah kedua orangtuanya , ketika mengetahui putri nya yang masih duduk di kelas XI SLTA, ternyata positif hamil.
"Mulai hari ini dan seterusnya kauambil alih tanggung jawab kami anak muda." Hardik sang ibu kepada lelaki yang juga siswa di sekolah tersebut. Anak lelaki itu hanya menatap tanpa berucap, seraya meraih tangan gadis itu untuk pergi bersamanya, sikap tanggung jawab tersirat di wajah nya.
Beberapa hari kemudian orang tua gadis itu tidak tega melepas putrinya dalam kesulitan, mereka dinikahkan dan pada akhirnya dipisahkan setelah jabang bayi terlahir. Oleh: Supriyati, SDN Surakarya 01 Bojonggede Bogor.

"Aku belum sanggup jadi penulis Kakak." Ucapku saat menutup telepon dari Kakak kelas yang mengajakku untuk menulis buku. Seperti ujian yang sangat berat kurasa saat aku disuruh untuk melakukan sesuatu yang bukan hobiku.
Setahun kemudian sebuah buku karangan kakak kelasku terbit dan sudah beredar di pasaran. Biar saja pikirku, toh menulis emang hobinya. Tahun berikutnya terbit lagi buku karangan kakak kelasku. 
Kucoba baca bukunya, ternyata isinya tentang pengalamannya sendiri. Esok hari ku datangi rumahnya dan bertanya kenapa suka menulis buku tentang pengalaman pribadi. Sontak dia jawab "Buku satu-satunya tempat curhatku." Oleh: Nurrifda, SMPN 1 KUNDUR UTARA KARIMUN.

MEJA BELAJAR YANG BERDEBU

Setelah petinggi negeri ini menetapkan situasi tanggap darurat. Suasana semua relatif aman menjadi sedikit khawatir dan akhirnya takut selanjutnya tidak menentu.
“Kapan aku bisa ke sekolah,” tanya Rafa kepada ibunya. Dari sudut dapur Ibu Amirah, Ibunya Rafa, dengan mata yang sedikit memerah mencoba untuk menjawab pertanyaan anaknya Rafa. Lirih suara Ibu Amirah menjelaskan, “nak, kita punya Tuhan, kamu kan belajar di sekolah bahwa wajib bertawakal kepada Tuhan. Saat ini negeri kita sedang dalam bencana penyakit menular yang sangat mengkhawatirkan, jadi belajarmu pindah dari sekolah ke rumah.” Begitu Ibu amirah menjelaskan kepada anaknya.
Setelah mendengarkan penjelasannya ibunya, Rafa bukannya semakin belajar. Setiap hari dia memikirkan bagaimana indahnya belajar bersama dengan temannya, dan yang paling dia pikirkan adalah mejanya yang baru saja disampul ketika hari terakhir pertengahan Maret lalu, ketika hari itu hari kebersihan bersama. Oleh: Ropiyanto, MAN 1 Kepahiang, Bengkulu.
Syarat 3 paragraf terpenuhi. Kesimpulan mudah ditebak, seperti film. Belum ada twist (kejutannya). Pangkas lagi paragrafnya, jangan sayang-sayang. Pisahkan paragrafnya

LELAKI ANTI CORONA

Tiap hari berpeluh dalam panas, di antara lumpur liat.  Dia tak punya sawah, bahkan mungkin tak punya pupuk karena duitnya lebih penting belanja rumah, bedak istri, atau bahkan jajan anak. Tapi dia ngak pernah mengeluh, tak pernah menyesali hidup. Dia menyembunyikan semua kepedihan sendiri. Bahkan dia sanggup memberi semangat kepada keluarganya, meski dia sedang galau menderita.
Dia lelaki. Keletihan dan kegalaunnya diatasi sendiri, dan pulih ketika pulang melihat senyum anak dan istrinya mengembang. Kini corona mengamcam dari semua sudut, dia tak pedulikan dirinya. Dia harus bekerja lebih keras untuk keluarganya, dalam situasi sulit ini. Dia saya panggil si Mus, alias Mawardi, warga Ikhulung, Jempa. Dia pengumpul sampah setengah hari, dan bertani di sawah setengah hari.
Tabek Mus, Allah akan melindungimu dari corona. Panasnya matahari, dan liatnya lumpur, itu adalah kita. Kamu pantas disebut lelaki anti corona, sebab Allah akan menjaga kita dengan segala keagungan sifat Rahman dan Rahim, termasuk dengan lumpur dan matahari. Salam untuk semua lelaki bertanggungjawab. Oleh: Edi syahputra. H., SMA Negeri 13 Banda Aceh.
Tabek, Mus. Saya terharu. Ini bagusnya masuk ke cerita motivasi, Pak. Nanti kirim ke majalah yang memuat kisah motivasi.  Kalau pentigraf, konflinya kurang tergambar.

Waduuh, saya terkesan galak, gak? Padahal saya lagi binung nih mau jawab yang mana dulu sambil scroll.

TERJEBAK

Lesu, seperti tiada semangat saat ini. Hampir seminggu ragaku seperti terkurung. Tak bisa kemana mana. Sehari hari hanya berkutat  di kamar, ruang tamu,  dapur, dan teras rumah setelah itu kembali lagi ke kamar. Hanya diarea itu saja aku bisa bergerak. 2 hari sekali kuberanikan diri keluar rumah, itupun karena sudah tidak ada bahan makanan lagi untuk di masak.
Hari ini seperti hari kemarin, selesai menyiapkan soal soal dalam bentuk google form, ku beranjak ke arah dapur untuk mulai mengolah yang bisa di olah. Terdengar nada dering HP di meja. Ku angkat dan terdengar suara di seberang sana. "Bun, aku mau pulang. Nur sudah gak betah". Bingung, panik aku hanya bisa mondar mandir karena tidak tahu harus berbuat apa.
Beberapa daerah  sudah menetapkan Lockdown. Termasuk di Jakarta lantas jika anakku memaksakan diri pulang, bagaimana nasibnya nanti setiba di bandara? Bisakah sampai dirumah atau justru masuk karantina? Aku benar benar terjebak. Oleh: Yuyun Dwi Mulyani, SDN Cipinang Besar Utara 07 Jatinegara.
Bagus, Bu. Saya ikut galau nih bacanya. Diperbaiki lagi tata tulisnya nanti, ya.

Sore itu aku duduk seorang diri di teras depan. Kakiku kuselonjorkan ke depan. Kerebahkan badanku di dinding kursi kayu yang sedikit kusam dan rapuh. Sekali-kali kugoyang-goyangkan kaki mengikuti irama lagu yang kunyanyikan. Sebuah lagu lama tapi sangat mewakili suasana hatiku saat itu. Rona merah senja terdampar dalam kutukan sang malam.Tak lama kemudian sebuah abang gojek datang. "Paket Bu," teriak abang gojek dengan baju kebesarannya. "Makasih, ya, Bang," sahutku tersenyum.
Sepeninggal abang gojek, aku masuk sambil membawa bingkisan itu ke dalam rumah. Pelan-pelan kubuka sambil ketar-ketir. Dari siapakah gerangan kiriman ini?" Bisikku pelan. Ketika kertas terakhir aku buka, aku terkejut. Sebuah tulisan berwarna merah jambu" Happy birth Day Sayang." Benarkah hari ini ulang tahunku? Aku sampai lupa hari ini tanggal berapa. Selama 2 minggu dirumahkan karena virus corona ini. Aku sama sekali tak mengingat hari dan tanggal. Aku sibuk dengan tugas online anak-anakku.
Sebuah jam tangan mewah telah dikirim oleh suamiku dari luar jawa. Selama berhari-hari ditelepon tak pernah diangkat ternyata ini kejutan dari suamiku. "Makasih sayang, bisikku lirih. Sambil mengusap air mataku yang entah sudah berapa hari selalu merana mencari anak sungai. Oleh: Nurul Wahyuningsih, SMAN 1 Tarumajaya Kab. Bekasi.


Bagi orang kebanyakan tinggal di gunung itu sangat menyenangkan. Udara segar, hijau pepohonan, gemericik air sungai, dan berjuta keindahan lainnya. Bagiku tidak.
Gunung itu sumpek, pengap, bising. Hampir dua puluh empat jam hingar bingar. Tak ada tempat yang tenang. Tak ada hijau pepohonan.
Bohong kalau gunung itu tempat tujuan wisata. Seperti yang selalu ditayangkan di televisi. Aku ingin pindah dari gunung. "Elu mau pindah kemane tong. Pan elu udah lama tinggal di Gunung Sahari." Kata engkong. Oleh: Waryanto, Cilandak Jakarta Selatan.

PUDAR

Marfa berjalan ke arah kerumunan itu. Marfa ingin tahu apa yang terjadi. Hingga begitu banyak orang disitu. Ternyata banyak orang berkerumun untuk meramal nasib pada seorang peramal. Marfa terus mendekat dan dan ingin tahu apa yang dikerjakan mereka. Seorang Bapak minta untuk diramalkan tentang karirnya diperusahaan. Sementara ada yang minta untuk diramalkan jodohnya. Ada juga yang minta untuk diramalkan tentang nomer togel. Ternyata lengkap.
Dengan peralatan banyak yang dibawa, peramal itu begitu meyakinkan saat menerangkan nasib yang akan terjadi pada mereka yang minta untuk diramal. Setelah mendengar ramalan itu juga tampak wajah mereka berubah. Ada yang gembira bersorak tetapi ada juga yang bersedih karena nasibnya jelek. Marfa ikut juga. Dia ingin diramal tentang gadis yang sekarang dekat dengannya. Dia iseng iseng ikut. Tangannya dipegang siperamal dan dengan komat-kamit serta gerakan-gerakan yang kita tidak mengerti peramal itu menyampaikan ramalan kepada Marfa. 
Tetapi Marfa terkejut saat dia mendengar apa yang disampaikan Peramal. Dia kapok untuk tidak akan datang lagi karena peramal bilang kalau Marfa terlalu banyak yang dicintai dan tidak setia. Jadi tidak ada yang memilih Marfa. Saat Marfa dalam keadaan sedih disitu ternyata ada calon istri yang akan dilamar. Dari tadi mengikuti kepergiannya. Oleh: Prihariyani, Guru SMPN 3 Mranggen Demak, Jawa Tengah. Saat saya menulis rekaan biasanya lebih baik karena tidak membelenggu ide, ibu. 


TAK ADA PENGORBANAN YANG SIA SIA
Vitti Medona S. Pd. I., SMP Muhammadiyah 1 Jakarta

Siang itu, aku keluar dari ruangan atasanku dengan perasaan gelisah dan marah. Langsung ku menuju ruang kerjaku dan disana sudah ada Rina sahabat sekaligus rekan kerjaku. "Penghargaan apa yang aku dapat setelah bertahun tahun saya korbankan semuanya disini? Bentakku padanya saat emosiku tak terbedung. 
"Kamu salah Viona, pengorban kamu terlalu hebat di mata kami, tapi kami tak selalu merepotkanmu. Saatnya yang lain mengikuti jejakmu dan saatnya ada regenerasi setiap pengorbanan yang telah engkau dedikasikan," balas Sahabatku sambil menenangkanku. "Harusnya kamu bersyukur Viona, ambil positifnya kamu bisa lebih banyak waktu memikirkan dirimu, keluargamu dan tidak hanya kerjamu. Kerja ibadah tapi saat engkau ada waktu maksimal untuk keluarga dan dirimu itu jauh lebih utama dan pastinya menjadi ibadah dan pahala pastinya untukmu," lanjutnya.
Mendengarkan ucapan itu aku langsung menyeka air mata yang telah bercampur dengan emosiku tadi. Dan dengan perasaan sedikit tenang, aku peluk sahabatku dan mengucapkan: "Terimakash say, kamu telah membuatku tenang dan lega." Setelah itu kamipun berpelukan.

Ahhai, saya ikut bahagia nih. Ringkas kalimatnya lagi, kalau kira-kira maksudnya sama. Banyak kesalahan tulis di huruf. Kekuatan Ibu ada di diksi (kata-kata). Kalau mau, bisa saja menulis berdasarkan fenomena sekitar, nanti kekuatan tulisan Bapak seperti cerpen Putu Wijaya yang realis. Sudah lumayan. No body's perfect, termasuk saya.

TANAH KELAHIRAN

Teriknya mentari yang menyengat kulit tidak menjadi penghalang. Kulitnya mengeriput dan legam menjadi saksi betapa gigihnya dia berjuang. Usia yang kian senja tidak membuatnya berputus asa. Terlebih pasangan hidupnya telah tiada. Baginya hidup harus berguna bagi keluarga dan sesama. Berkali-kali bujukan serta rayuan terlontar bahkan berujung dengan air mata dari kami sekeluarga. Namun hatinya tetap bersikukuh, kokoh bagai karang di lautan untuk selalu teguh pada pendirian. 
"Apakah ini benar-benar sudah menjadi keputusan?" Tanyaku dengan penasaran berharap hatinya luluh. "Iya sudah Bapak pikir dengan matang. Bapak sangat berat meninggalkan kampung halaman untuk tinggal bersama kalian di kota ini. Di sana tempat kelahiran, tempat perjuangan membesarkan kalian. Biarkan Bapak sendiri di desa, kalau ada waktu luang silakan mengunjungi. Bapak bahagia dengan kesuksesan kalian." Ucapnya dengan pelan. 
Air mata mengalir dari setiap sudut mata. Menyadari betapa besar jasa orang tua. Dia rela berjuang untuk anak-anaknya. Tidak pernah mengharap balasan dari perjuangan yang telah dilakukan. Hanya mengharapkan anak cucunya selalu hidup bahagia. Oleh: Nila Putri, SDN Tepus II Kec. Tepus Kab. Gunungkidul Prov. Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mantap, twist-nya ada. Sudah 3 paragraf. Nanti perbaiki tata tulisnya.

JODOH

Hampir semua temanku menganggap aku  bodoh. Mereka beranggapan aku masih bisa mendapatkan yang lebih dari pacarku. Tidak salah memang anggapan mereka. Apalagi orang tuaku juga tidak merestui hubungan kami
Hingga suatu saat aku merasa duniaku berakhir ketika mendengar kalimat yang diucapkan pacarku. “Sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini.” Perasaan marah, sedih, putus asa bercampur dalam hati. Bergejolak memainkan perasaan dan logikaku. Setahun, dua tahun, lima tahun berlalu bukan waktu yang pendek.
Pengalaman dan perjalanan hidup mengajariku bahwa hidup tidak harus seperti yang aku mau.  Perjalanan hidup seolah merupakan suatu proses yang menggiring kita untuk lebih memahami apa arti ikhlas. Seperti aku, Allah telah memilihkan yang terbaik untukku, yang menemani hari-hari indahku sekarang. Lalu untuk apa aku kecewa berat waktu itu kalau akhirnya aku akan bahagia? Butuh jam terbang yang cukup untuk mampu memahaminya. Oleh: Nining Sulistyani P., M. Pd., SDN 3 Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang.

Ringkas paragrafnya, terutama paragraf kedua. Intinya jangan panjang-panjang. Potong kalimat yang maksudnya sama.




INdownESIA

Corona sudah tiba. Kedatangan yang sama sekali tidak aku harapkan. Mendadak semua orang mulai beropini. Menjadi ahli kesehatan dan statistik dari sumber yang bahkan cuma mereka dapat dari copas tak bertanggungjawab.
Aku tidak takut dengan Corona. Tapi aku takut dengan Indonesia. Aku takut dengan warganya yang memandang sebelah mata akan sebuah peristiwa. Ingin aku berteriak di setiap telinga mereka. "Aturan dibuat untuk taat jangan nekad." Isengmu, sok hebatmu, egoismu itu sudah seperti menodongkan pistol di setiap jidat sekelilingmu.
"Di rumah aja." Corona mengajarkan kita banyak hal untuk kehidupan. Pentingnya empati sosial, menjadi kesehatan dan kebersihan, dan masih banyak lagi yang tersirat dalam arti kata Corona. Oleh: Budi Artopo, SDN Melikan Rongkop GunungkiduL Yogyakarta.


LOCKDOWN ALA KAMI

Lockdown 14 hari sudah ditambah lagi menjadi 70 hari. Waw, waktu yang sangat panjang untukku di rumah saat ini. Banyak yang ngeshare sisi positif dan tidak sedilit juga yang mengeshare sisi negatif, tidak boleh keluar rumahlah, bertemu dengan orang lain dan bahkan harus sering digalakkan mencuci tangan dengan benar, iya sih..aku sepakat kalau hal ini, tapi kalau tidak keluar rumah kami memiliki cara tersendiri agar tidak bosan terus di rumah yang penting terus menjaga diri dan keluarga agar tidak terkena virus corona.
Sepupuku di kampung menelponku tadi siang, "Bagaimana dengan keadaan di sana, apa tidak boleh kemana-mana?" Tanyanya. Kakak sepupuku ini terkenal sangat berhati-hati dengan segala hal yang terjadi baru-baru ini. "Kakaku tersayang, jangan panik yang penting kita selalu waspada dan jaga diri dan keluarga, kalau bisa berjemur setiap hari, atau bahkan kalau di kampung bisa pergi ke sawah. Kalau kami sih sukanya berjemur di tepi pantai atau bahkan terjun ke laut untuk mandi bersama anak2. Seru deh kak, ceritaku panjang padanya."
Lockdown juga salah satu cara yang Allah berilan kepada kita agar kita dapat dekat dengan keluarga, yang selama ini mungkin sdh jarang dilakukan. Nah, bagaimana lockdown menurutmu? Oleh: Elidayati, SDN 16 Banda Aceh.

Ini bagusnya dimasukkan ke cerita motivasi, ya. Twist-nya belum keliatan paragrafnya 4, ya. Paragraf kedua maksimal 1 kalimat langsung. Jangan panjang-panjang. Paragraf terakhir, kalimat bagaimana menurutmu? tidak perlu. Twist-nya tidak ada. Paragraf kedua pangkas, maksimal 1 kalimat langsung. Kalimat dialog lainnya dinarasikan saja.


“Apakah kamu sudah makan?" Pertanyaan rutin yang selalu kuterima darinya setiap pagi melalui WA. Dia seseorang yang telah menawarkan masa depan untukku lima bulan lalu.
Layar smartphone-ku menunjukkan waktu pukul 10.15 WIB. Pesan WA darinya menghentikan kunyahan sepotong roti pada mulutku. Dia mengajakku akad bulan depan. Entah apa yang ada dalam benaknya. Namun, perpisahan menjadi kata terakhir dalam percakapan kala itu.
Aku berusaha menemuinya untuk mencari jawaban atas semua prasangka. Kutawarkan kesempatan kedua namun dia menolak dengan tetesan air mata. Dia  pergi dengan memberikan undangan pernikahan. Iya, perempuan itu adalah pilihan orang tuanya. Oleh: Uswatun Khasanah Al-Fauzi, SMKN2 Gedangsari DIY.


PENANTIAN

Setiap perempuan yang sudah berumah tangga pasti berharap besar atas kehadiran anak-anak yang lahir dari rahimnya. Begitu juga padaku. Hari-hari yang kulalui setelah pernikahan tak kunjung juga hadir. Berbagai upaya dilakukan. Konsultasi kespesialis kandungan dan juga pengobatan alternatif.
Setiap kali ada yang memberitahukan tempat pengobatan untuk mendapatkan buah hati, selalu ku tuju. Kadang lelah menghampiri.  Bosan menjalani hari-hari seperti ini.  Ingin rasanya mendengar tawa,  tangis,  senda gurau dari anak yang terlahir dari rahim ku. Dikala rasa itu hadir aku selalu berfikir inilah ujian untukku dari Allah. Seberapa sabar aku menanti,  seberapa besar doa dan ikhtiarku.
Tapi kini terjawab sudah segala doa yang kupanjatkan. Allah memberikan putri cantik,  yang mungil,  lucu, dan menggemaskan. Oleh: Rosmalinda Aziz, Guru SMPN 2 Kundur Barat Karimun Kepri
Ini bisa masuk ke Kisah Motivasi. Tapi twist-nya ada dan mengharukan.
ANAK TETANGGA

Langkahku terhenti di depan pintu sebuah rumah,  setelah mendengar seorang anak yang sedang menangis meraung dengan seorang ibu yang memeluknya untuk berusaha menenangkan sianak dengan sangat sabar. Aku diam sejenak sebelum menggucapkan salam, karena jika mengucapkan salam sudah pasti tidak akan didengar oleh tuan rumah karena suara tangisan anaknya sudah memenuhi rumah mereka. 
Waalaikum salam terdengar suara ibu yang menjawab salamku, kemudian si Obi mempersilakan diriku untuk memasuki rumahnya dan menyediakan kursi pas di depan anaknya yang sedang menangis. Kemudian terjadilah percakapan dengan ibunya. Aku bertanya apakah yang telah terjadi pada anaknya sehingga menangis sedemikian rupa yang menyebabkan aku sebagai tetangga bertanya tanya dan berinisiatif untuk datang kerumah ibu. 
Anaknya seketika terdiam dan menangis sesenggukan sambil mengucapkan kata, "Maafkan Dedek, Mamah." Kata-kata itu diulangi berkali kali sambil menangis sekeras kerasnya.  Ibunya dengan sabar mengatakan kepada anaknya, Huss malu didengar oleh tetangga suara tangisanmu nak, cobalah dengan tenang ceritakan pada ibu apa yang telah terjadi padamu sehingga tangismu tak bisa berhenti. Oleh: Desi Yarni, SMPN I Kundur Utara Karimun Kepri.

Nanti tulisannya diperbaiki ya, banyak typo.

RUMAH TUA

Dalam sebuah desa di pinggir sungai ada rumah yang tidak mempunyai tetangga. Rumah itu sangat sederhana terbuat dari kayu mahoni bercampur anyaman bambu. Sepi. Sunyi sekali.
"Astaghfirullahal adzim,” kata aku. Siapa yang berani tinggal di rumah itu? Hantu mungkin.
Termyata rumah itu sudah lama tidak dihuni, karena yang punya rumah sudah meninggal lebih dari  20 tahun  yang lalu dan tidak punya keturunan sehingga kondisi rumah tidak  ada yang merawat dan terkesan sangat "angker." Oleh: M.Taufiq, SMAN 1 Semanu GK.






DAUN YANG BERGUGURAN

Di hamparan daratan yang luas, terdapat pohon-pohon dan rerumputan yang sangat hijau sekali yang nyaris sempurna ketika mata memandang. Pandanganku tertuju sejenak menikmati indahnya alam sampai mataku terlelap dalam kegelapan akibat sinar matahari yang menghadang.
Bayangan pohon-pohon hampir tak terlihat dengan berjalannya waktu, matahari yang tegak terpancar menghiasi pohon dan memancar ke kelopak mataku, sehingga mataku seakan buram dan kelam melihat hamparan yang ada di depan mataku. Angin pun menari-nari perlahan dan menggugurkan helai demi helai daun yang layu. Hatiku tersontak melihat semua itu dan terasa lirih yang sangat dalam. Huffffff! "Sambil menghela nafas yang panjang."
Daun yang berjatuhan helai demi helai pun seolah-olah tak berdaya. Aku pun tertunduk seolah-olah aku yang mengalami hal yang sama seperti daun. Tapi dengan kejadian tersebut aku harus berpikir yang sangat positif dan timbul semangat baru. Dalam hatiku berkata, "daun yang jatuh tidak pernah membenci angin." Oleh: Dewi Yanti, SMPN 1 KUNDUR UTARA KAB.KARIMUN PROV. KEPRI.


GEMPA PEMBAWA NESTAPA

Pagi tepat pukul 6.30 aku sedang menyapu halaman rumahku. Tiba-tiba gempa menghamburkan semua orang satu desaku.
"Gempa-gempa bumi." Semua orang keluar dari rumah.
Aku berlari sambil melempar sapu yg ku bawa, dan keluar bersama kerumunan orang lainya. Dan terlihat rumahku bergoyang seakan  pohon yang akan tumbang. Oleh: Sugiyatno, S.Pd., SDN Gatak Tanjungsari, Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ganti paragraf ketiganya coba, biar lebih nendang. Misalnya tiba-tiba ada yang mati atau positif corona kerena tidak menghiraukan seruan di rumah aja.


LIBURAN MEMBAWA BENCANA


Namaku Nita. Aku adalah seorang gadis remaja yang duduk di kelas 2 SMA. Kedua orangtuaku selalu sibuk. Sangking sibuknya aku hanya bertemu orangtuaku di waktu libur saja. Sabtu dan minggu. Itupun kalau ayah atau ibuku tidak ke luar kota. Mereka selalu memenuhi apa yang aku inginkan sebagai bentuk perhatian mereka. Maklum aku anak tunggal. Aku melihat tanggal merah. Dan aku mempunyai ide untuk berlibur bersama sahabat karibku Anita. Dia adalah anak yang baik hati dan teman curhatku. Dia selalu mendengarkan keluh kesah ku. Anita merupakan anak dari keluarga sederhana dan Anita memiliki banyak saudara lebih tepatnya banyak adik. Hehehe.
Setiap kali aku bermain kerumah Anita aku selalu merasakan kenyamanan dan kasih sayang dari keluarga mereka. Ibu dan Ayah Anita memperlakukanku seperti anak sendiri. Perlakuan mereka begitu hangat. Aku merasa nyaman berada diantara mereka. Dan aku mengajak Anita untuk berlibur bersamaku. Ibu dan ayah Anita setuju. Dan kedua orang tuaku pun setuju. Orang tuaku memberikan fasilitas dan ATM untuk aku pergunakan. Hotel dan akomodasi sudah disiapkan oleh ayahku.
Tibalah waktu liburan. Aku dan Anita berlibur ke negeri Cina. Lebih tepatnya di daerah Wuhan. Kami menikmati liburan di sana hingga waktu liburan pun telah usai. Setelah kembali ke tanah air. Aku dan Nita begitu bahagia. Kami mempunyai kisah untuk kami ceritakan kepada teman-teman sekelas kami. Dan setelah beberapa hari aku mulai merasakan kondisi badanku kurang fit. Ternyata bukan cuma aku saja yang mengalaminya Anita pun sama. Anita mulai drop. Selama aku sakit aku di rawat dan aku menonton televisi bahwa di Cina lebih tepatnya di daerah Wuhan mengalami kejadian luar biasa akibat virus corona atau sering juga disebut Covid 19. Dan aku mulai ketakutan bahwa aku dan Anita berkunjung ke daerah tersebut. Apakah aku tertular? Itu yang ada di dalam pikiranku. Akupun memberitahukan dokter tentang liburanku. Dokter pun mulai mengambil darah dan mengetes darah ku di dalam lab. Dan hasilnya ternyata benar aku positif begitu jg dengan Anita. Aku dan Anita pun ditempatkan di ruang isolasi. Betapa hancurnya hati kami libur kami membawa bencana bukan cuma kami tetapi orang-orang di sekitar kami. Oleh: Sarinovita, SLB Negeri Nunukan.
Ganti paragraf ketiganya coba biar lebih nendang. Quitenya TL jangan ada.

SAKIT BIASA DIANGGAP CORONA

Setelah menunggu beberapa jam untuk menunggu hasil laboratorium, tiba terdengar suara langkah mendeket. "Pak, Anda harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap alatnya, karena gejala yang bapak miliki sudah mengarah ke virus corona." Kata seorang dokter dengan memakai pakaian APD. 
Aku hanya bisa pasrah, istriku menangis sambil memelukku. "Bapak kuat, bapak harus tabah, kita harus sama-sama berdoa." Kata anakku sambil menguatkanku. Setelah semuanya siap untuk pindah rumah sakit, sebuah keajaiban pun terjadi. Seorang dokter menghampiri kami dan menyatakan bahwa aku tidak positif corona dan bisa dibawa pulang. 
Di situlah kami semua menangis merasa lega. Aku percaya sebuah keajaiban bisa muncul dari kekuatan doa dan semangat dari keluarga. Oleh: Arifiani Kurniasih, SDN Mentel I Tanjungsari, Gunungkidul, D.I Yogyakarta.

Ada peristiwa yang mengejutkan gitu. Terlalu panjang, ringkas, ambil yang pentingnya saja. Kalimat yang sama maksudnya dihilangkan. Misalnya, ini pengalaman saya, yang saya bawa guling bukan bayi saya.


TENTANG LUKA

Sudah terlalu lama aku menunggu. Menantinya muncul setelah lama menghilang. Bukan hanya hitungan hari,minggu,atau bulan,tapi bahkan tahun. Ya, tahun demi tahun aku tak bisa menatapnya lagi. Dan ini adalah tahun ketiga sejak perpisahan kami. Rasanya berat jika tiba-tiba aku harus berhadapan dengannya lagi dengan luka dan kesedihan yang setiap hari menemani hari-hariku tanpanya.
"Maafkan aku." Itu adalah kalimat pertama yang dia ucapkan.Kami memang bertemu tanpa sengaja disini, di rumah sahabat kami,pada acara pernikahannya. Dulu kami pernah bermimpi menggelar acara besar seperti ini. Tapi semua berakhir tatkala ia putuskan untuk pergi jauh meninggalkannku setelah diterima bekerja di sebuah perusahaan besar.
Aku hanya terpaku tanpa sepatah katapun. Kata maaf yang ia ucapkan sama sekali tak menyembuhkan pedihnya hatiku. Apalagi setelah beberapa saat muncul wanita cantik dengan kerudung jingga menggendong bayi lucu menyusulnya mendekati kami. Aku tau siapa wanita dan anak ini tanpa dijelaskan sekalipun. Oleh: Mariana Sri Rahayu, SDN PLANJAN 2, SAPTOSARI, GK.

Bapak/Ibu sepertinya waktu saya sudah habis. Izinkan saya mohon diri. Silakan Bapak/Ibu menggali lagi potensi menulis yang mungkin selama ini kurang tergali karena kita sama-sama sibuk mengajar selama ini.

DI PINGGIR SUNGAI KECIL ITU

Seorang anak tiba di sungai kecil itu. Ia duduk di pinggirannya lalu melepas pandang bagai hendak merenung. Di tangan kanannya ada sebatang kayu yang ujungnya diikatkan tali. Pada ujung tali dipasangi mata kail.  Di tangan kirinya ia memegang sebentuk benda barang anyaman. Isinya beberapa ekor cacing yang akan dipakai sebagai umpan di mata kail.
Ia masih duduk di sana. Apakah akan memancing atau tidak memancing? Pikirannya melayang sebentar. Ia tidak dapat segera memutuskan berhubung sungai kecil itu dipenuhi sampah-sampah plastic di permukaannya. Ia membatin: “Apakah mungkin ada ikan di dalam sungai kecil ini? Alirannya sangat kotor?”
Sementara berpikir demikian, satu unit pikap membawa sampah. Dua orang yang berada di pikap itu menurunkan sejumlah besar sampah dari bak pikap itu. Keduanya lalu meninggalkan tempat itu. Si anak masih duduk di sana. Ia telah buntu pikirannya setelah melihat peristiwa itu. Oleh: Heronimus Bani.

Ikan mas ikan arwana
Itu cuma nama-nama ikan
Jangan harap dapat sepeda
Saya gak janji apa-apa

Tubuh kita telah lelah
Mungkin sedang minta haknya
Kalau ada kata yang salah
Saya mohon maaf ya


MEREKA YANG TAK TERLIHAT

Sejak dari lahir aku telah di berikan kemampuan yang luar biasa dari tuhan aku di anugerahi apa yang tidak bisa mereka lihat aku sudah biasa melihat mereka orang menyebut nya sebagai mahluk halus.
Tiba - tiba pintu depan di ketuk tok....tok terdengar suara dari luar tapi tidak ada yang menyahut. Ku berani kan diri untuk bangkit dari tempat tidurku menuju arah pintu depan yang di ketuk tapi siapa di luar tidak ada jawaban.
Tiba - tiba aku kaget bukan kepalang krek pintu depan ku buka aku terperanjak kaget Door tiba - tiba kakak sepupu ku yang mengangetkan ku aku bercampur marah dan kesal? Mau datang kok bikin kaget aja tanyaku? Kenapa lupa untuk mengunci pintu gerbang di malam hari aku lupa saking lelah nya aku terlelap tidur. Oleh: Tin Mulia.


Kevin terlihat murung pagi ini. Beban berat seakan menyelimuti raut wajahnya. Teman-temannya yang sedang bercanda ria  seolah tidak menarik baginya. Dengan langkah sedikit tertahan dia masuk kelas sambil sesekali menghindar dari teman-temannya yang berlarian di halaman sekolah.
Perlahan aku dekati Kevin. “Kamu kenapa Kevin?” Kepalanya semakin menunduk. Terdengar lirih isakan tangisnya. Dadaku berdebar kencang. Apakah sesuatu yang berat, berbahaya, menyedihkan, atau bahkan menyakitkan telah terjadi pada anak ini? 
Akhirnya dengan terbata-bata dia pun menjawab pertanyaanku. “Aku takut kepalaku tumbuh jeruk Bu. Tadi aku makan jeruk dan bijinya tertelan.” Oleh: Nining Sulistyani P., SDN 3 Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang.


JATAH SI MILKY

"Meong..meong," ini sudah yang ketiga kalinya aku memberinya kepala ayam goreng dalam 1 jam. Si milky sebutannya, masih saja minta jatah.
Sudah menjadi rutinitasku membeli ayam bumbu siap goreng dari seorang pedagang keliling tiap pagi. Siap goreng manakala si kecil tiba-tiba minta menu kesukaannya ini. Si Milky, kucing yang tiba-tiba datang ke rumah ini, tidak pernah absen tiap kali pedagang ayam ini singgah. Kami tidak merawat Milky, hanya bisa memberinya kepala ayam goreng 5 potong sehari.
"Baiklah Milky, ini potongan keempat untukmu." Aku penasaran dan mengikuti kemana arahnya pergi. Tiba di belakang warung tetangga, ada 3 anak kucing yang bewarna kuning sama seperti Milky dan 1 kucing bewarna kecoklatan sedang menyantap potongan-potongan kecil kepala ayam goreng yang aku beri tadi. Ternyata Milky berbagi dengan anak-anaknya dan kucing lain. Oleh: YUNI RIYANTI, SDN Porisgaga 5 Kota Tangerang.

KASIH YANG TERBUANG

Adikku kesayanganku, mereka adalah motivasiku bekerja selama ini. Tak ada yang mengerti mereka selain diriku, kami tumbuh bersama dan saling menyayangi tanpa kasih sayang dari ayah bunda.
Mereka sudah berdiri d kaki sendiri, sukses dalam karir dan rumah tangga,rasanya tak ada yang kurang lagi dalam kehidupan mereka, Allah menjawab doa-doaku.
Seperti roda berputar mereka di atas dan kini aku dibawah, hari hariku semakin sulit, menahan rindu ingin memeluk mereka jangankan datang berkunjung sekedar menanyakan kabar pun mereka tak ingin.

IMPIANKUN TAK TERBATAS SEKOLAHKU

Di sebuah pelosok Negeri, Oksamol tepatnya terdapat bangunan sekolah panggung dengan beralaskan kayu yang sudah rapuh dan hampir roboh. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk suasana perkotaan.
Bona Ventura, seorang siswa yang rajin dan tentunya mempunyai tekat yang kuat untuk tetap sekolah mendapatkan ilmu. Tak terkecuali dengan kegiatan sehari-hari untuk tetap membantu orangtuanya dengan beralatkan parang untuk mencari bahan makanan di hutan.
Bona dengan sapaan akrabnya mempunyai cita-cita untuk menjadi Polisi. "Kenapa ko ingin jadi polisi nak?" Tanyaku. "Sa ingin jadi Polisi karena cita-citaku tak terbatas seperti sekolahku pa guru." Oleh: Ageng Hening Hutomo, SDN Wonosari IV.


TAK SEHARUSNYA

Sontak aku bangun dengan nafas terengah-engah. Sudah tiga malam wanita itu selalu menemuiku. Wanita yang telah menjerat hatiku.
"Kapan kamu mau nikah?" Pertanyaan ibu yang selalu meluncur setiap aku pulang kampung. Di usia ku yang lebih dari kepala tiga dengan pekerjaan mapan memang layak untuk berkeluarga. Tapi sampai sekarang belum mampu melupakan wanita yang sudah lima tahun meninggalkanku.
Sebetulnya aku mulai menemukan sosok yang mulai bisa mengisi hatiku. Dan kini, aku jatuh cinta pada istri orang. Oleh: TJ. EKAPUTRA, BENDUNGAN KARANGMOJO GK.


CORONA

Sejak adanya virus cantik yang bernama Corona bukan lagi berita internasional atau pun epidemi tapi virus cantik ini telah merubah cara keseharian hidup kami.
Di bulan Febuari 2020 kami bisa hidup tenang dan santai tanpa memikirkan apa yang terjadi tanpa ada rasa kwatir sedikit pun.
Namun segalanya berubah sejak pemberitaan di media televisi dan media online bahwa virus cantik ini telah merengut nyawa manusia di dunia ternasuk kami di indonesia suatu hal yang membuat kami tidak nyaman karena corona dan sekarang kami berjuang dari virus cantik yang tak kasat mata ini. Oleh: Haddy Priady


AKU RINDU RUMAHMU

Sejak November 2020 lalu, tiba-tiba makhluk mungil yang tak kasat mata telah dikirimkan oleh Tuhan sebagai tentara-tentara yang menyerang dan menyebar di seluruh dunia. Makhluk kecil itu tiba-tiba popular, bahkan melebihi artis dunia. Dialah yang setiap saat disebut-sebut oleh manusia di seluruh dunia, yaitu Korona. Bentuknya memang tak kasat mata, tapi siapa yang takut dengannya?
Setiap daerah yang dinyatakan terpapar virus ini, dinyatakan lockdown. Bekerja di rumah, belajar di rumah, dan ibadah di rumah. Demikian juga di kampung Tirai Bambu, desaku. Beberapa orang dinyatakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), dan bahkan ada yang sudah meninggal akibat makhluk kecil yang bernama Korona ini. Hal ini menyebabkan di kampung ini dilarang untuk sholat di Masjid, yang sebelumnya masih boleh jamaah di masjid, tetapi dengan diberi jarak satu meter tiap jamaah dalam shof sholatnya. Hal ini menjadikan kampung Tirai Bambu ini semakin mencekam. Tak ada  yang berani keluar rumah, bahkan untuk belanja kebutuhan sehari-hari mengandalkan jasa ojek online. Gang-gang rumah yang dulu ramai dengan anak-anak bermain, kini menjadi lengang. Tak terkecuali Masjidnya, sekarang sangat sepi. Meski setiap wakttu tetap mengumandangkan adzan, namun jamaahnya sudah lengang. 
Senja ini saya mencoba duduk di teras rumah, untuk menghilangkan rasa bosan karena sudah hampir dua pekan berada di rumah. Tak terasa terdengar kumandang adzan magrib. Tak terasa air mataku menetes. “Yaa, Robb, aku rindu bersujud di rumah-Mu!” Gumamku dalam hati. Oleh: Kibtiyani, SDN Turi 2 Blitar.


TERNYATA MIMPI

 Selama di rumahkan kerjaku hanya olahraga di panas matahari, beres-beres rumah, memasak untuk satu rumah, sesudah itu bolak balik HP baca WA, FB, baca berita yang semuanya isi tentang Corona.
Aku melihat ada sosok wanita  yang mukanya jelek,berambut panjang tapi berantakan datang dan mengatakan ayo  ikut aku, terus saya memohon jangan bawa aku karena aku tidak mengenal kamu, wanita itu bersikeras memaksa aku dan menarik tangan ku sambil berkata cepat ikut aku, aku berontak dan berusaha untuk melepaskan diri, akhirnya kami dua berantem, kami berduel habis-habisan sampai ke titik yang aku tidak mampu lagi, aku berteriak tolong aku Tuhan kemudian aku sadar eh ternyata hanya mimpi dan wanita dalam mimpi ternyata korona yang menakutkan. 

BANJIR
Oleh: Jenika Widiya

"Umi, Asyari lapar." Teriaknya dari atas kasur di dalam kamar tidur yang pintunya sedang terbuka.
"Iya, sayang. Sebentar, ya. Umi masak dulu." Jawab umi dari dapur. Hujan yang tak henti dari pagi sampai malam ini membuat rumah banjir. Hal itu membuat perutnya mudah lapar. Padahal baru saja dua jam lalu dia makan.
Air di dalam rumah sudah selutut, umi berjalan mengantarkan sepiring nasi goreng. Sayang sekali umi terpeleset. Terpaksa umi membuat makanan baru lagi. Karang Bahagia, Bekasi.28 Maret 2020.


Wuih, sudah dapat twist-nya. Paragraf ketiga, kalimat langsung dirapatkan dengan kalimat selanjutnya agar tidak kelihatan 4 paragraf. Sebagai kenang-kenangan, tulisan peserta workshop ada yang saya simpan di blog saya. Maaf, tidak semua saya masukkan ke blog saya. Ini hanya sample, karena tugas utamanya Bapak/Ibu tetap mengirimkan tugas ke email Om Jay. http://rosianafebriyanti.blogspot.com/2020/03/kumpulan-pentigraf-peserta-workshop.html.



Yolis Y. A. Djami (Tilong-Kupang, NTT)
Selasa, 5 Mei 2020 (15.15 wita)

Comments

  1. silahkan klik like and subscribe di https://youtu.be/6WWcFZd0oE8 jangan lupa ya ditonton!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

BERIRING

AKU ADA SEBAGAIMANA AKU ADA KARENA MEREKA ADA BAGIKU

CINTA=KENTUT