PENTIGRAF
I.
Pengantar
Malam ini, Sabtu tanggal 28 Maret 2020 Ibu Rosianafe akan menyampaikan materi cerita 3 paragraf.
Silahkan disimak baik baik.
“Kepada ibu
Rosianafe kami persilakan.”
“Terima kasih, Om
Jay.”
II.
Materi Pembelajaran
Selamat malam,
Bapak/Ibu Guru. Malam ini saya akan mengulas sedikit ilmu tentang pentigraf. Pentigraf
adalah akronim dari cerpen tiga paragraf (alinea). Bukan sebarang tiga paragraf
yang datar, melainkan ada kesimpulan di akhirnya, bahkan dibumbui dengan akhir
yang manis atau menyedihkan.
Menurut DR. Tengsoe
Tjahjono, penggagas pentigraf, yang kemudian disebut sebagai Presiden Kampung
Pentigraf Indonesia, cerpen tiga paragraf ini merupakan cerita yang utuh. Menurut
beliau, pentigraf termasuk fiksi mini yang hanya dibatasi 3 paragraf. Ciri-cirinya:
1. Panjang tulisan adalah 3 paragraf.
2. Satu paragraf hanya memiliki satu
gagasan pokok.
3. Secara teknis penulisan di
komputer: satu paragraf satu kali ENTER.
4. Sebagai cerpen, pentigraf memiliki
ciri-ciri narasi, yaitu:
a. Alur (ada konfliknya)
b. Tokoh (yang menggerakkan alur)
c. Topik (persoalan yg dialami tokoh)
d. Latar (waktu, tempat, dan suasana)
Proses Kreatif
Ide bisa diperoleh
dari mana saja, terlebih dari pengalaman pribadi. Ide tersebut tidak dituangkan
mentah-mentah seperti curahan hati atau menulis berita. Ide dikelola menjadi
sebuah cerita baru yang menarik dalam kemasan dan bahasanya. Pentigraf boleh
diawali dengan memunculkan konflik atau solusi atau pengenalan karakter tokoh.
Endingnya pun beraneka macam. Ada yang membahagiakan, ada yang menyedihkan, ada
pula yang twist atau memberikan kejutan.
Dialog dalam
pentigraf diminimalkan, diubah dalam bentuk narasi atau deskripsi. Namun,
dialog diperlukan juga sebagai bumbu agar cerita tidak hambar sebagai kejutan
tak terduga bagi pembaca. Menurut Dr. Tengsoe, paragraf jangan terlalu panjang
dan jangan terlalu banyak percakapan. Dalam paragraf maksimal hanya satu
kalimat langsung. Panjang pentigraf
sekitar 210 kata. Kalimat langsung pada paragraf kedua cukup satu saja. Intinya,
jangan panjang-panjang, ringkas saja.
Yang perlu
diperhatikan dalam menulis pentigraf adalah keringkasan. Anda mungkin bisa
berpanjang-panjang kata untuk menyampaikan sebuah cerita. Namun, dalam flash fiction termasuk pentigraf
Anda mencoba meringkas sebuah cerita ke dalam sebuah kotak kecil yang imut dan
menarik hati. Ibarat Anda harus menuturkan sebuah kejadian ketika pulsa telepon
Anda tinggal beberapa rupiah saja.
Struktur Cerita
Struktur sebuah
pentigraf adalah permulaan, tengah, dan penutup. Setiap bagian ini isilah
dengan pembeda. Kisah harus terus bergerak maju lengkap dengan konfilk dan
resolusi. Paragraf kedua berisi alur, di dalamnya konflik yang dialami
tokohnya. Hanya ada satu kalimat langsung. Dialog lainnya dinarasikan saja. Paragraf
ketiga berupa resolusi atau kesimpulan. Ada twist
atau kejutan di akhir kisah. Ini bumbu rahasia Anda, kejutan tidak terduga. Hal
ini bisa membuat orang ingin membaca lagi dari awal. Di paragraf terakhir
buatlah kesimpulan yang menarik dan berkesan sehingga mudah diingat oleh
pembaca.
Saya dapat tips
dari guru pentigraf saya, Queen Erni seperti ini.
Tata Cara Menulis
Dialog yang Benar
1. Penggunaan tanda titik di akhir
dialog.
Contoh salah: “Aku yakin dia
pemenangnya”.
Yang benar: “Aku yakin dia
pemenangnya.”
2. Tanda baca ditempatkan sebelum
tanda kutip di akhir dialog. Apabila diiringi narasi, maka ketentuannya seperti
ini :
Contoh salah: “Dia memang sangat
berbakat.” menatap Bayu kagum.
Yang benar: “Dia memang sangat
berbakat.” Menatap Bayu kagum.
Apa yang membedakannya? Huruf awal
narasi. Huruf awal narasi harus di dahului oleh kapital.
3. Jika narasinya berada di awal,
maka ketentuannya seperti ini.
Contoh salah: Andi tersenyum, “Kamu
adalah sahabat terbaik.”
Yang benar: Andi tersenyum. “Kamu
adalah sahabat terbaik.”
Perbedaannya apa? Penggunaan
tanda baca. Yang pertama kenapa salah? Kan, huruf awal dalam dialognya udah
bener, pake kapital? Emang, sih.
Tapi, penulis menggunakan tanda baca koma (,) yang seharusnya titik (.)
Contoh Pentigraf 1
KENAPA SAYA BERTAHAN
NAIK OJEK SAAT BERANGKAT SEKOLAH?
Ada mobil jemputan sekolah, kenapa
saya malah memilih naik ojek? Pertanyaan itu tidak hanya sekali saya dengar.
Bahkan, beberapa teman dan guru pernah bertanya soal itu kepada saya. Tapi,
saya tetap bergeming. Naik ojek pulang dan pergi ke sekolah adalah pilihan
terbaik.
Naik ojek itu tidak harus bangun pagi
karena penumpang yang diantar hanya saya sendiri, tidak harus putar-putar
jemput penumpang lain. Tempat duduk juga lega karena bangku penumpang untuk
saya seorang. Naik ojek juga luwes menerobos kemacetan. Pulang sekolah lebih
enak lagi, saya ditunggui seperti punya sopir pribadi karena saya langganan
ojek.
Saya tidak bosan naik ojek, bahkan saya sudah melakoni naik ojek
sejak kelas 1 SD sampai SMP sekarang ini. Asyiknya, ojek saya tidak mau dibayar
dan saya tidak terpikir untuk membayarnya. Sebab, ojek saya adalah bapak saya
sendiri. Dia ojek pangkalan dan saya bangga bisa bersekolah berkat profesi
bapak yang unik dan mulia itu.
Pentigraf tersebut
sangat simpel. Kata-katanya mudah dipahami anak-anak. Jelas, itu fiksi alias
sekadar cerita rekaan. Meskipun demikian, anak-anak suka dengan cerita itu.
Lantas, apa rahasianya cerpen tiga paragraf itu disukai? Ada bumbu rahasianya. Tengok paragraf pertama. Yakinkan bahwa
bagian itu harus menarik, bikin penasaran, sampaikan problem atau topik. Tengok paragraf kedua. Pada bagian ini
sampaikan argumen. Pilih argumen yang kuat, tidak klise, dan pakai kalimat
pendek-pendek. Karakter tokoh bisa terbaca pada bagian ini. Tengok juga paragraf ketiga. Pilih
kalimat kesimpulan yang paling berkesan. Berusahalah memasukkan twist hingga pembaca terkesima atau
malah tertawa.
Cocok ya cerita itu
untuk anak SD-SMP? Nah, bagaimana untuk anak SMA/SMK?
Ini contoh dari
guru pentigraf saya lagi, Pak Taufik Sudjana. Contoh pentigrafnya.
LAMPU MERAH JAMBU
DUA
Taufiq Sudjana
Lampu merah menghentikan semua
kendaraan. Di simpang empat Jambu Dua, hujan masih belum reda. Tiba di
sampingku seorang bocah basah kuyup menengadahkan tangan.
“Kamu sekolah di mana?” Sambil
merogoh saku jaket, aku tanya bocah yang menghampiriku.
Bocah itu lari seketika bersama
sekelompok orang yang berhamburan. Nampak di antara mereka yang mengacungkan
clurit, samurai, dan ada yang memutar rantai berbandul gir. Apakah ini jawaban
pertanyaanku tadi? Dia bersekolah di jalanan yang mengajarkan kekerasan dan
tawuran.
(Buitenzorg, 21 Januari 2020).
Singkat bukan? Tapi
ending-nya "nendang." Butuh latihan untuk bisa menulis seperti ini.
Kalau untuk orang
dewasa bagaimana? Hm, saya carikan contoh lain ya.
MENEBANG POHON ARA
Siwi Dwi Saputra
"Aku nggak tahu harus bagaimana,
Mbak," katanya terisak. Perempuan cantik itu bercerita tentang
perkawinannya yang sedang diterpa badai. Secara tak sengaja dia mendapati
bukti-bukti suaminya berselingkuh.
Pada suatu ketika, suaminya pamit
pergi ke luar kota untuk urusan dinas. Sebagai istri yang baik dia percaya
sepenuhnya. Sampai akhirnya tiga bulan kemudian, dia mendapati nota pembayaran
di sebuah hotel di kota Y pada tanggal suaminya berkata dinas ke kota X. Dia
limbung. Tak percaya. "Haruskah aku meminta cerai?" tanyanya
padaku.
Sebagai orang luar aku hanya bisa
memberikan nasehat yang kuanggap bijak. Kuminta dia bersabar, memperbaiki dulu
keadaan dan tunggu beberapa waktu. Rajin-rajinlah menyiangi, menyirami dan
memupuk. Tunggu apa dia mampu menghasilkan buah. "Jangan tebang dulu pohon
aranya!"
Tema Perselingkuhan
pada hidup perkawinan dewasa ini sungguh menjadi bayang-bayang menakutkan bagi
kelanggengan hidup berumah tangga. Perselingkuhan selalu berakhir pada
kehancuran mahligai suci tersebut.
Yang menarik dari
pentigraf ini justru nasihat yang diberikan ‘aku’ kepada tokoh perempuan yang
mengetahui bahwa suaminya telah melakukan perselingkuhan. “Jangan tebang dulu
pohon aranya!” Begitu nasihat yang diberikan. Mengapa? ‘Aku’ meminta perempuan
itu melakukan sesuatu, yaitu menyiangi, menyirami, dan memupuk, untuk
mengetahui apakah pohon ara itu bisa berbuah. Ini mungkin merupakan nasihat
bijak yang ideal yang tidak mudah dituruti oleh si perempuan. Dalam kondisi
seperti itu pengampunan akan sangat sulit dilaksanakan.
Oleh karena itu
pentigraf ini sengaja diakhiri dengan pola terbuka. Ending-nya diserahkan kepada pembaca. Beranikah perempuan itu
membiarkan pohon ara itu tumbuh, atau malah menebang dan membakarnya? Pembaca
pun diajak memberikan jawaban sesuai dengan pandangan masing-masing. Ending seperti itu menjadi daya pikat
lain dari pentigraf ini.
Nah, saya pikir
materinya sudah cukup ya, Bapak/Ibu. Tinggal praktiknya saja. Ada yang mau mencoba
menulis pentigraf?
III.
Tanya Jawab
Pertanyaan 1: “Ciri2 pentigraf apa?”
Ciri-cirinya:
1. Panjang tulisan adalah 3 paragraf
2. Satu paragraf hanya memiliki satu
gagasan pokok.
3. Secara teknis penulisan di
komputer: satu paragraf satu kali ENTER.
4. Sebagai cerpen, pentigraf memiliki
ciri-ciri narasi, yaitu:
a. Alur (ada konfliknya).
b. Tokoh (yang menggerakkan alur).
c. Topik (persoalan yg dialami tokoh)
d. Latar (waktu, tempat, dan suasana).
Pertanyaan 2: “Pentigraf adalah cerpen dengan dibatasi 3
paragraf yang harus simpel tapi utuh, menarik dan minim kalimat langsung.
Benarkah simpulan? Bagaimana kita membandingkan cerita untuk anak remaja dan
dewasa? Dalam pentigraf apakah alurnya harus maju? Strategi untuk mencari
rahasia atau twist? Minimal berapa kalimat dlm setiap paragraf?”
Betul, Om. Tambahkan lagi, ada twist di akhir cerita. Cerita anak
disesuaikan dunia anak, menggunakan bahasa mapun isi yang sederhana sehingga
mudah dipahami dan diimajinasikan anak. Karena pada dasarnya anak-anak masih
memiliki pemikiran sederhana. Untuk cerita yang lebih dewasa menggunakan bahasa
yang kompleks. Selain itu, dari segi alur cerita juga mempunyai
perbedaan. Alur cerita anak lebih sederhana. Biasanya, alur cerita anak
memunculkan konflik yang kecil dan sederhana pula. Misalnya, cerita mengenai
kancil mencuri mentimun. Hal ini juga disesuaikan dengan tingkat pola pemikiran
anak yang masih sederhana sehingga anak mudah memahami inti dari cerita. Akan
lebih mudah untuk menulis cerpen singkat ini dengan alur maju. Hal ini
dikarenakan terbatasnya jumlah paragraf yang bisa dituliskan di dalamnya. Paragraf
akhirnya kan berupa kesimpulan.
Pertanyaan 3 dari Raja
Demagog: “Dalam pentigraf, konfliknya ada
di paragraf keberapa, bu?”
BERSEMI SEINDAH
TAMAN BUNGA
"Berpikirlah sebelum
menerimanya." Kalimat yang selalu bibi sampaikan padaku, tidak mudah
untukku menentukan pilihan disaat hati tertaut pada yang lain.
Dia memang tampan, mapan dan
bertanggung jawab, perang batin terus menyerangku namun tetap kupasrahkan
kepada Allah Sang pemilik rencana terbaik. Hingga pilihanku jatuh padanya demi
hubungan keluarga yang tak terkoyak.
Awal yang penuh airmata dan doa,
badaipun berlalu, tetap kujalani lika-liku hidup dengannya hingga cinta bersemi
seindah taman bunga.
Setiap penulis memang biasanya
memiliki ciri khasnya sendiri dalam membuat sebuah cerita. Dengan berlatih
lebih banyak maka Anda akan menemukan cara yang tepat dalam menulis cerita. Tidak
ada batasan kalimat, patokannya kalimat ringkas, minim dialog, hanya ada patokan
jumlah paragraf harus 3.
Pertanyaan 4: “Untuk sudut pandang dalam bercerita kalau
menggunakan sudut pandang orang 1 sebagai pelaku bisa juga? Apakah termasuk
dalam cerita pengalaman diri?”
Konflik ada di paragraf kedua. Di
sini bisa kita sisipkan satu kalimat langsung saja, ya. Paragraf pertama dan
kedua berupa narasi (tanpa dialog). Bisa saja. Banyak penulis menjadikan
pengalamannya sebagai ide menulis sehingga banyak pula orang mengira kalau isi
cerita kisah nyata. Padahal, yang namanya cerita fiksi itu tidak murni kisah
nyata.
VIRUS CORONA
PENGHAMBAT
Virus corona penghambat pulang ke kampung, rasa sedih membuat
tak berdaya. Sang anak tiba-tiba menelponku.
"Kenapa kamu menangis?" Sambil sesenggukan
menelponku.
Anak kecil itu bersedih karena tidak lagi seperti biasa, sekolah
diliburkan, main tidak pernah, jajan pun tidak berani. Dan teramat menyedihkan
kangen kampung halaman bakalan tak akan terobati.
Sudah terpenuhi syarat 3 paragrafnya,
nanti masalah editing di sini banyak suhu yang bisa membantu. Kesimpulan di
akhir sudah ada, sedih, nanti tinggal diedit lagi tata tulisnya.
Pertanyaan 5 dari Raja
Demagog: “Bolehkah dalam akhir pentigraf
kita selipkan quote?”
Saya pikir quote ciptaan sendiri boleh. Akan tetapi, quote milik orang lain saya tidak tahu, apakah itu termasuk
pelanggaran hak cipta atau bukan.
SISTEM MAGANG DI
SMK
Perkembangan teknologi yang pesat
menyebabkan program pendidikan selalu ketinggalan dengan proses perubahan yang
terjadi di masyarakat. Hal ini yang menyebabkan ketidakpuasan dunia kerja atau
industri terhadap lulusan SMK bukan akibat sistem belajar mengajar di sekolah
menengah kejuruan tidak bermutu. Perkembangan yang sangat pesat di bidang
teknologi, mengharuskan industri atau dunia kerja selalu menyesuaikan
peralatan, baik macam maupun karakteristik pengoperasiannya.
Pakar pendidikan mengatakan bahwa
sekolah menengah kejuruan yang memiliki fasilitas praktek kuat, lengkap
sekalipun paling hanya dapat bertahan sekitar 5 sampai 8 tahun untuk dapat
memenuhi kebutuhan tenaga siap pakai di industri. Industri selalu melangkah
lebih dahulu dalam menggunakan teknologi baru.
PSG (Pendidikan Sistem Ganda) adalah satu bentuk Training/ Kerja
Magang yang dilakukan oleh siswa SMK. Hal ini dilakukan untuk memberi bekal
pengetahuan kepada mereka tentang situasi dan kondisi yang nyata di lingkungan
industri/ instansi. Dengan PSG, siswa diharapkan dapat memperoleh pelajaran
secara langsung dari industri/ instansi, sehingga apabila mereka telah
menyelesaikan studinya di jenjang SMK, siswa dapat langsung terjun ke dunia
kerja tanpa harus mengalami kesulitan, sebab sebelumnya dia telah mendapatkan
pengalaman bekerja di industri/ instansi. Oleh: Sarastiana, Kab.Banjarnegara
Jateng.
Maaf ini tidak jelas mana paragraf 1,
2, dan 3 nya
Sore itu langit mulai gelap, pertanda
hujan akan segera tiba. Bergegas ku giring kambing-kambingku untuk kembali ke
kandang.
Salah satu dari mereka ternyata ada
yang tertinggal, hingga membuat induknya kebingungan dan kembali berlari ke
tanah lapang. Aku pun ikut berlari mengejarnya. Sementara langit semakin gelap
dan kilat pun mulai menyambar. Angin berhembus cukup kencang disertai rintikan
hujan.
Si induk akhirnya menemukan kembali anaknya, segera ku giring
keduanya kembali ke rumah dengan berlarian. Saya dan piaraanku harus berpacu
dengan hujan yang sudah mulai deras mengguyur bumi. Akhirnya aku dan kambingku
sampai di rumah dengan selamat meskipun sedikit basah kehujanan. Oleh: Agus Purwadi, SMP 4 Ponjong, GK MBA.
Meledak amarah kedua orangtuanya ,
ketika mengetahui putri nya yang masih duduk di kelas XI SLTA, ternyata positif
hamil.
"Mulai hari ini dan seterusnya
kauambil alih tanggung jawab kami anak muda." Hardik sang ibu kepada
lelaki yang juga siswa di sekolah tersebut. Anak lelaki itu hanya menatap tanpa
berucap, seraya meraih tangan gadis itu untuk pergi bersamanya, sikap tanggung
jawab tersirat di wajah nya.
Beberapa hari kemudian orang tua
gadis itu tidak tega melepas putrinya dalam kesulitan, mereka dinikahkan dan
pada akhirnya dipisahkan setelah jabang bayi terlahir. Oleh: Supriyati, SDN Surakarya 01 Bojonggede Bogor.
"Aku belum sanggup jadi penulis
Kakak." Ucapku saat menutup telepon dari Kakak kelas yang mengajakku untuk
menulis buku. Seperti ujian yang sangat berat kurasa saat aku disuruh untuk
melakukan sesuatu yang bukan hobiku.
Setahun kemudian sebuah buku karangan
kakak kelasku terbit dan sudah beredar di pasaran. Biar saja pikirku, toh
menulis emang hobinya. Tahun berikutnya terbit lagi buku karangan kakak
kelasku.
Kucoba baca bukunya, ternyata isinya
tentang pengalamannya sendiri. Esok hari ku datangi rumahnya dan bertanya
kenapa suka menulis buku tentang pengalaman pribadi. Sontak dia jawab
"Buku satu-satunya tempat curhatku." Oleh: Nurrifda, SMPN 1 KUNDUR UTARA KARIMUN.
MEJA BELAJAR YANG
BERDEBU
Setelah petinggi negeri ini
menetapkan situasi tanggap darurat. Suasana semua relatif aman menjadi sedikit
khawatir dan akhirnya takut selanjutnya tidak menentu.
“Kapan aku bisa ke sekolah,” tanya
Rafa kepada ibunya. Dari sudut dapur Ibu Amirah, Ibunya Rafa, dengan mata yang
sedikit memerah mencoba untuk menjawab pertanyaan anaknya Rafa. Lirih suara Ibu
Amirah menjelaskan, “nak, kita punya Tuhan, kamu kan belajar di sekolah bahwa
wajib bertawakal kepada Tuhan. Saat ini negeri kita sedang dalam bencana
penyakit menular yang sangat mengkhawatirkan, jadi belajarmu pindah dari
sekolah ke rumah.” Begitu Ibu amirah menjelaskan kepada anaknya.
Setelah mendengarkan penjelasannya ibunya, Rafa bukannya semakin
belajar. Setiap hari dia memikirkan bagaimana indahnya belajar bersama dengan
temannya, dan yang paling dia pikirkan adalah mejanya yang baru saja disampul
ketika hari terakhir pertengahan Maret lalu, ketika hari itu hari kebersihan
bersama. Oleh: Ropiyanto, MAN 1 Kepahiang,
Bengkulu.
Syarat 3 paragraf terpenuhi. Kesimpulan
mudah ditebak, seperti film. Belum ada twist
(kejutannya). Pangkas lagi paragrafnya, jangan sayang-sayang. Pisahkan
paragrafnya
LELAKI ANTI CORONA
Tiap hari berpeluh dalam panas, di antara
lumpur liat. Dia tak punya sawah, bahkan mungkin tak punya pupuk karena
duitnya lebih penting belanja rumah, bedak istri, atau bahkan jajan anak. Tapi
dia ngak pernah mengeluh, tak pernah menyesali hidup. Dia menyembunyikan semua
kepedihan sendiri. Bahkan dia sanggup memberi semangat kepada keluarganya,
meski dia sedang galau menderita.
Dia lelaki. Keletihan dan kegalaunnya
diatasi sendiri, dan pulih ketika pulang melihat senyum anak dan istrinya
mengembang. Kini corona mengamcam dari semua sudut, dia tak pedulikan
dirinya. Dia harus bekerja lebih keras untuk keluarganya, dalam situasi sulit
ini. Dia saya panggil si Mus, alias Mawardi, warga Ikhulung, Jempa. Dia
pengumpul sampah setengah hari, dan bertani di sawah setengah hari.
Tabek Mus, Allah akan melindungimu dari corona. Panasnya
matahari, dan liatnya lumpur, itu adalah kita. Kamu pantas disebut lelaki
anti corona, sebab Allah akan menjaga kita dengan segala keagungan sifat Rahman
dan Rahim, termasuk dengan lumpur dan matahari. Salam untuk semua lelaki
bertanggungjawab. Oleh: Edi syahputra. H., SMA Negeri
13 Banda Aceh.
Tabek, Mus. Saya terharu. Ini
bagusnya masuk ke cerita motivasi, Pak. Nanti kirim ke majalah yang memuat
kisah motivasi. Kalau pentigraf, konflinya kurang tergambar.
Waduuh, saya terkesan galak, gak? Padahal saya lagi binung nih mau jawab yang mana dulu sambil scroll.
TERJEBAK
Lesu, seperti tiada semangat saat
ini. Hampir seminggu ragaku seperti terkurung. Tak bisa kemana mana. Sehari
hari hanya berkutat di kamar, ruang tamu, dapur, dan teras rumah
setelah itu kembali lagi ke kamar. Hanya diarea itu saja aku bisa bergerak. 2
hari sekali kuberanikan diri keluar rumah, itupun karena sudah tidak ada bahan
makanan lagi untuk di masak.
Hari ini seperti hari kemarin,
selesai menyiapkan soal soal dalam bentuk google form, ku beranjak ke arah
dapur untuk mulai mengolah yang bisa di olah. Terdengar nada dering HP di meja.
Ku angkat dan terdengar suara di seberang sana. "Bun, aku mau pulang. Nur
sudah gak betah". Bingung, panik aku hanya bisa mondar mandir karena tidak
tahu harus berbuat apa.
Beberapa daerah sudah
menetapkan Lockdown. Termasuk di Jakarta lantas jika anakku memaksakan diri
pulang, bagaimana nasibnya nanti setiba di bandara? Bisakah sampai dirumah atau
justru masuk karantina? Aku benar benar terjebak. Oleh: Yuyun Dwi Mulyani, SDN Cipinang Besar Utara 07 Jatinegara.
Bagus, Bu. Saya ikut galau nih
bacanya. Diperbaiki lagi tata tulisnya nanti, ya.
Sore itu aku duduk seorang diri di
teras depan. Kakiku kuselonjorkan ke depan. Kerebahkan badanku di dinding kursi
kayu yang sedikit kusam dan rapuh. Sekali-kali kugoyang-goyangkan kaki
mengikuti irama lagu yang kunyanyikan. Sebuah lagu lama tapi sangat mewakili
suasana hatiku saat itu. Rona merah senja terdampar dalam kutukan sang
malam.Tak lama kemudian sebuah abang gojek datang. "Paket Bu," teriak
abang gojek dengan baju kebesarannya. "Makasih, ya, Bang," sahutku
tersenyum.
Sepeninggal abang gojek, aku masuk
sambil membawa bingkisan itu ke dalam rumah. Pelan-pelan kubuka sambil
ketar-ketir. Dari siapakah gerangan kiriman ini?" Bisikku pelan. Ketika
kertas terakhir aku buka, aku terkejut. Sebuah tulisan berwarna merah
jambu" Happy birth Day Sayang." Benarkah hari ini ulang tahunku? Aku sampai
lupa hari ini tanggal berapa. Selama 2 minggu dirumahkan karena virus
corona ini. Aku sama sekali tak mengingat hari dan tanggal. Aku sibuk dengan
tugas online anak-anakku.
Sebuah jam tangan mewah telah dikirim
oleh suamiku dari luar jawa. Selama berhari-hari ditelepon tak pernah diangkat
ternyata ini kejutan dari suamiku. "Makasih sayang, bisikku lirih. Sambil mengusap
air mataku yang entah sudah berapa hari selalu merana mencari anak sungai. Oleh: Nurul Wahyuningsih, SMAN 1 Tarumajaya Kab. Bekasi.
Bagi orang kebanyakan tinggal di
gunung itu sangat menyenangkan. Udara segar, hijau pepohonan, gemericik air
sungai, dan berjuta keindahan lainnya. Bagiku tidak.
Gunung itu sumpek, pengap, bising.
Hampir dua puluh empat jam hingar bingar. Tak ada tempat yang tenang. Tak ada
hijau pepohonan.
Bohong kalau gunung itu tempat tujuan
wisata. Seperti yang selalu ditayangkan di televisi. Aku ingin pindah dari
gunung. "Elu mau pindah kemane tong. Pan elu udah lama tinggal di Gunung
Sahari." Kata engkong. Oleh: Waryanto, Cilandak Jakarta
Selatan.
PUDAR
Marfa berjalan ke arah kerumunan itu.
Marfa ingin tahu apa yang terjadi. Hingga begitu banyak orang disitu. Ternyata
banyak orang berkerumun untuk meramal nasib pada seorang peramal. Marfa terus
mendekat dan dan ingin tahu apa yang dikerjakan mereka. Seorang Bapak minta
untuk diramalkan tentang karirnya diperusahaan. Sementara ada yang minta untuk
diramalkan jodohnya. Ada juga yang minta untuk diramalkan tentang nomer togel.
Ternyata lengkap.
Dengan peralatan banyak yang dibawa,
peramal itu begitu meyakinkan saat menerangkan nasib yang akan terjadi pada
mereka yang minta untuk diramal. Setelah mendengar ramalan itu juga tampak
wajah mereka berubah. Ada yang gembira bersorak tetapi ada juga yang bersedih
karena nasibnya jelek. Marfa ikut juga. Dia ingin diramal tentang gadis yang
sekarang dekat dengannya. Dia iseng iseng ikut. Tangannya dipegang siperamal
dan dengan komat-kamit serta gerakan-gerakan yang kita tidak mengerti peramal
itu menyampaikan ramalan kepada Marfa.
Tetapi Marfa terkejut saat dia
mendengar apa yang disampaikan Peramal. Dia kapok untuk tidak akan datang lagi
karena peramal bilang kalau Marfa terlalu banyak yang dicintai dan tidak setia.
Jadi tidak ada yang memilih Marfa. Saat Marfa dalam keadaan sedih disitu
ternyata ada calon istri yang akan dilamar. Dari tadi mengikuti kepergiannya. Oleh: Prihariyani, Guru SMPN 3 Mranggen Demak, Jawa Tengah.
Saat saya menulis rekaan biasanya lebih baik karena tidak membelenggu
ide, ibu.
TAK ADA PENGORBANAN
YANG SIA SIA
Vitti Medona S. Pd.
I., SMP Muhammadiyah 1 Jakarta
Siang itu, aku keluar dari ruangan
atasanku dengan perasaan gelisah dan marah. Langsung ku menuju ruang kerjaku
dan disana sudah ada Rina sahabat sekaligus rekan
kerjaku. "Penghargaan apa yang aku dapat setelah bertahun tahun saya
korbankan semuanya disini? Bentakku padanya saat emosiku tak terbedung.
"Kamu salah Viona, pengorban
kamu terlalu hebat di mata kami, tapi kami tak selalu merepotkanmu. Saatnya
yang lain mengikuti jejakmu dan saatnya ada regenerasi setiap pengorbanan yang
telah engkau dedikasikan," balas Sahabatku sambil menenangkanku. "Harusnya
kamu bersyukur Viona, ambil positifnya kamu bisa lebih banyak waktu memikirkan
dirimu, keluargamu dan tidak hanya kerjamu. Kerja ibadah tapi saat engkau ada
waktu maksimal untuk keluarga dan dirimu itu jauh lebih utama dan pastinya
menjadi ibadah dan pahala pastinya untukmu," lanjutnya.
Mendengarkan ucapan itu aku langsung menyeka air mata yang telah
bercampur dengan emosiku tadi. Dan dengan perasaan sedikit tenang, aku peluk
sahabatku dan mengucapkan: "Terimakash say, kamu telah membuatku tenang
dan lega." Setelah itu kamipun berpelukan.
Ahhai, saya ikut bahagia nih. Ringkas
kalimatnya lagi, kalau kira-kira maksudnya sama. Banyak kesalahan tulis di
huruf. Kekuatan Ibu ada di diksi (kata-kata). Kalau mau, bisa saja menulis
berdasarkan fenomena sekitar, nanti kekuatan tulisan Bapak seperti cerpen Putu
Wijaya yang realis. Sudah lumayan. No
body's perfect, termasuk saya.
TANAH KELAHIRAN
Teriknya mentari yang menyengat kulit
tidak menjadi penghalang. Kulitnya mengeriput dan legam menjadi saksi betapa
gigihnya dia berjuang. Usia yang kian senja tidak membuatnya berputus asa.
Terlebih pasangan hidupnya telah tiada. Baginya hidup harus berguna bagi
keluarga dan sesama. Berkali-kali bujukan serta rayuan terlontar bahkan
berujung dengan air mata dari kami sekeluarga. Namun hatinya tetap bersikukuh,
kokoh bagai karang di lautan untuk selalu teguh pada pendirian.
"Apakah ini benar-benar sudah
menjadi keputusan?" Tanyaku dengan penasaran berharap hatinya
luluh. "Iya sudah Bapak pikir dengan matang. Bapak sangat berat meninggalkan
kampung halaman untuk tinggal bersama kalian di kota ini. Di sana tempat
kelahiran, tempat perjuangan membesarkan kalian. Biarkan Bapak sendiri di desa,
kalau ada waktu luang silakan mengunjungi. Bapak bahagia dengan kesuksesan kalian."
Ucapnya dengan pelan.
Air mata mengalir dari setiap sudut
mata. Menyadari betapa besar jasa orang tua. Dia rela berjuang untuk
anak-anaknya. Tidak pernah mengharap balasan dari perjuangan yang telah
dilakukan. Hanya mengharapkan anak cucunya selalu hidup bahagia. Oleh: Nila Putri, SDN Tepus II Kec. Tepus Kab. Gunungkidul Prov.
Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mantap, twist-nya ada. Sudah 3 paragraf. Nanti perbaiki tata tulisnya.
JODOH
Hampir semua temanku menganggap
aku bodoh. Mereka beranggapan aku masih bisa mendapatkan yang lebih dari
pacarku. Tidak salah memang anggapan mereka. Apalagi orang tuaku juga tidak
merestui hubungan kami
Hingga suatu saat aku merasa duniaku
berakhir ketika mendengar kalimat yang diucapkan pacarku. “Sebaiknya kita
akhiri saja hubungan ini.” Perasaan marah, sedih, putus asa bercampur dalam
hati. Bergejolak memainkan perasaan dan logikaku. Setahun, dua tahun, lima
tahun berlalu bukan waktu yang pendek.
Pengalaman dan perjalanan hidup mengajariku bahwa hidup tidak
harus seperti yang aku mau. Perjalanan hidup seolah merupakan suatu
proses yang menggiring kita untuk lebih memahami apa arti ikhlas. Seperti aku,
Allah telah memilihkan yang terbaik untukku, yang menemani hari-hari indahku
sekarang. Lalu untuk apa aku kecewa berat waktu itu kalau akhirnya aku akan
bahagia? Butuh jam terbang yang cukup untuk mampu memahaminya. Oleh: Nining Sulistyani P., M. Pd., SDN 3
Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang.
Ringkas paragrafnya, terutama
paragraf kedua. Intinya jangan panjang-panjang. Potong kalimat yang maksudnya
sama.
INdownESIA
Corona sudah tiba. Kedatangan yang
sama sekali tidak aku harapkan. Mendadak semua orang mulai beropini. Menjadi
ahli kesehatan dan statistik dari sumber yang bahkan cuma mereka dapat dari
copas tak bertanggungjawab.
Aku tidak takut dengan Corona. Tapi
aku takut dengan Indonesia. Aku takut dengan warganya yang memandang sebelah
mata akan sebuah peristiwa. Ingin aku berteriak di setiap telinga mereka.
"Aturan dibuat untuk taat jangan nekad." Isengmu, sok hebatmu, egoismu
itu sudah seperti menodongkan pistol di setiap jidat sekelilingmu.
"Di rumah aja." Corona mengajarkan kita banyak hal
untuk kehidupan. Pentingnya empati sosial, menjadi kesehatan dan kebersihan,
dan masih banyak lagi yang tersirat dalam arti kata Corona. Oleh: Budi Artopo, SDN Melikan Rongkop GunungkiduL Yogyakarta.
LOCKDOWN ALA KAMI
Lockdown 14 hari sudah ditambah lagi
menjadi 70 hari. Waw, waktu yang sangat panjang untukku di rumah saat ini. Banyak
yang ngeshare sisi positif dan tidak sedilit juga yang mengeshare sisi negatif,
tidak boleh keluar rumahlah, bertemu dengan orang lain dan bahkan harus sering
digalakkan mencuci tangan dengan benar, iya sih..aku sepakat kalau hal ini,
tapi kalau tidak keluar rumah kami memiliki cara tersendiri agar tidak bosan
terus di rumah yang penting terus menjaga diri dan keluarga agar tidak terkena
virus corona.
Sepupuku di kampung menelponku tadi
siang, "Bagaimana dengan keadaan di sana, apa tidak boleh
kemana-mana?" Tanyanya. Kakak sepupuku ini terkenal sangat berhati-hati
dengan segala hal yang terjadi baru-baru ini. "Kakaku tersayang, jangan
panik yang penting kita selalu waspada dan jaga diri dan keluarga, kalau bisa
berjemur setiap hari, atau bahkan kalau di kampung bisa pergi ke sawah. Kalau kami
sih sukanya berjemur di tepi pantai atau bahkan terjun ke laut untuk mandi
bersama anak2. Seru deh kak, ceritaku panjang padanya."
Lockdown juga salah satu cara yang Allah berilan kepada kita
agar kita dapat dekat dengan keluarga, yang selama ini mungkin sdh jarang
dilakukan. Nah, bagaimana lockdown menurutmu? Oleh: Elidayati, SDN 16 Banda Aceh.
Ini bagusnya dimasukkan ke cerita
motivasi, ya. Twist-nya belum
keliatan paragrafnya 4, ya. Paragraf kedua maksimal 1 kalimat langsung. Jangan
panjang-panjang. Paragraf terakhir, kalimat bagaimana menurutmu? tidak
perlu. Twist-nya tidak ada. Paragraf
kedua pangkas, maksimal 1 kalimat langsung. Kalimat dialog lainnya dinarasikan
saja.
“Apakah kamu sudah makan?"
Pertanyaan rutin yang selalu kuterima darinya setiap pagi melalui WA. Dia
seseorang yang telah menawarkan masa depan untukku lima bulan lalu.
Layar smartphone-ku menunjukkan waktu
pukul 10.15 WIB. Pesan WA darinya menghentikan kunyahan sepotong roti pada
mulutku. Dia mengajakku akad bulan depan. Entah apa yang ada dalam benaknya.
Namun, perpisahan menjadi kata terakhir dalam percakapan kala itu.
Aku berusaha menemuinya untuk mencari jawaban atas semua
prasangka. Kutawarkan kesempatan kedua namun dia menolak dengan tetesan air
mata. Dia pergi dengan memberikan undangan pernikahan. Iya, perempuan itu
adalah pilihan orang tuanya. Oleh: Uswatun
Khasanah Al-Fauzi, SMKN2 Gedangsari DIY.
PENANTIAN
Setiap perempuan yang sudah berumah tangga pasti berharap besar
atas kehadiran anak-anak yang lahir dari rahimnya. Begitu juga padaku.
Hari-hari yang kulalui setelah pernikahan tak kunjung juga hadir. Berbagai
upaya dilakukan. Konsultasi kespesialis kandungan dan juga pengobatan
alternatif.
Setiap kali ada yang memberitahukan tempat pengobatan untuk
mendapatkan buah hati, selalu ku tuju. Kadang lelah menghampiri. Bosan
menjalani hari-hari seperti ini. Ingin rasanya mendengar tawa,
tangis, senda gurau dari anak yang terlahir dari rahim ku. Dikala rasa
itu hadir aku selalu berfikir inilah ujian untukku dari Allah. Seberapa sabar
aku menanti, seberapa besar doa dan ikhtiarku.
Tapi kini terjawab
sudah segala doa yang kupanjatkan. Allah memberikan putri cantik, yang
mungil, lucu, dan menggemaskan. Oleh: Rosmalinda Aziz, Guru SMPN 2 Kundur
Barat Karimun Kepri
Ini bisa masuk ke Kisah Motivasi.
Tapi twist-nya ada dan mengharukan.
ANAK TETANGGA
Langkahku terhenti di depan pintu
sebuah rumah, setelah mendengar seorang anak yang sedang menangis meraung
dengan seorang ibu yang memeluknya untuk berusaha menenangkan sianak dengan
sangat sabar. Aku diam sejenak sebelum menggucapkan salam, karena jika
mengucapkan salam sudah pasti tidak akan didengar oleh tuan rumah karena
suara tangisan anaknya sudah memenuhi rumah mereka.
Waalaikum salam terdengar suara ibu
yang menjawab salamku, kemudian si Obi mempersilakan diriku untuk memasuki
rumahnya dan menyediakan kursi pas di depan anaknya yang sedang
menangis. Kemudian terjadilah percakapan dengan ibunya. Aku bertanya
apakah yang telah terjadi pada anaknya sehingga menangis sedemikian rupa
yang menyebabkan aku sebagai tetangga bertanya tanya dan berinisiatif untuk
datang kerumah ibu.
Anaknya seketika terdiam dan menangis sesenggukan sambil
mengucapkan kata, "Maafkan Dedek, Mamah." Kata-kata itu
diulangi berkali kali sambil menangis sekeras kerasnya. Ibunya dengan
sabar mengatakan kepada anaknya, Huss malu didengar oleh tetangga suara
tangisanmu nak, cobalah dengan tenang ceritakan pada ibu apa yang telah
terjadi padamu sehingga tangismu tak bisa berhenti. Oleh: Desi Yarni, SMPN I Kundur Utara Karimun Kepri.
Nanti tulisannya diperbaiki ya,
banyak typo.
RUMAH TUA
Dalam sebuah desa di pinggir sungai
ada rumah yang tidak mempunyai tetangga. Rumah itu sangat sederhana terbuat
dari kayu mahoni bercampur anyaman bambu. Sepi. Sunyi sekali.
"Astaghfirullahal adzim,” kata
aku. Siapa yang berani tinggal di rumah itu? Hantu mungkin.
Termyata rumah itu sudah lama tidak dihuni, karena yang punya
rumah sudah meninggal lebih dari 20 tahun yang lalu dan tidak punya
keturunan sehingga kondisi rumah tidak ada yang merawat dan terkesan
sangat "angker." Oleh: M.Taufiq, SMAN 1 Semanu GK.
DAUN YANG
BERGUGURAN
Di hamparan daratan yang luas,
terdapat pohon-pohon dan rerumputan yang sangat hijau sekali yang nyaris
sempurna ketika mata memandang. Pandanganku tertuju sejenak menikmati indahnya
alam sampai mataku terlelap dalam kegelapan akibat sinar matahari yang
menghadang.
Bayangan pohon-pohon hampir tak
terlihat dengan berjalannya waktu, matahari yang tegak terpancar menghiasi
pohon dan memancar ke kelopak mataku, sehingga mataku seakan buram dan kelam
melihat hamparan yang ada di depan mataku. Angin pun menari-nari perlahan dan
menggugurkan helai demi helai daun yang layu. Hatiku tersontak melihat semua
itu dan terasa lirih yang sangat dalam. Huffffff! "Sambil menghela nafas
yang panjang."
Daun yang berjatuhan helai demi helai pun seolah-olah tak berdaya.
Aku pun tertunduk seolah-olah aku yang mengalami hal yang sama seperti daun.
Tapi dengan kejadian tersebut aku harus berpikir yang sangat positif dan timbul
semangat baru. Dalam hatiku berkata, "daun yang jatuh tidak pernah
membenci angin." Oleh: Dewi Yanti, SMPN 1 KUNDUR
UTARA KAB.KARIMUN PROV. KEPRI.
GEMPA PEMBAWA
NESTAPA
Pagi tepat pukul 6.30 aku sedang
menyapu halaman rumahku. Tiba-tiba gempa menghamburkan semua orang satu desaku.
"Gempa-gempa bumi." Semua
orang keluar dari rumah.
Aku berlari sambil melempar sapu yg ku bawa, dan keluar bersama
kerumunan orang lainya. Dan terlihat rumahku bergoyang seakan pohon yang
akan tumbang. Oleh: Sugiyatno, S.Pd., SDN Gatak
Tanjungsari, Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ganti paragraf ketiganya coba, biar
lebih nendang. Misalnya tiba-tiba ada yang mati atau positif corona kerena
tidak menghiraukan seruan di rumah aja.
LIBURAN MEMBAWA
BENCANA
Namaku Nita. Aku adalah seorang gadis
remaja yang duduk di kelas 2 SMA. Kedua orangtuaku selalu sibuk. Sangking sibuknya
aku hanya bertemu orangtuaku di waktu libur saja. Sabtu dan minggu. Itupun kalau
ayah atau ibuku tidak ke luar kota. Mereka selalu memenuhi apa yang aku
inginkan sebagai bentuk perhatian mereka. Maklum aku anak tunggal. Aku
melihat tanggal merah. Dan aku mempunyai ide untuk berlibur bersama sahabat
karibku Anita. Dia adalah anak yang baik hati dan teman curhatku. Dia selalu
mendengarkan keluh kesah ku. Anita merupakan anak dari keluarga sederhana dan
Anita memiliki banyak saudara lebih tepatnya banyak adik. Hehehe.
Setiap kali aku bermain kerumah Anita
aku selalu merasakan kenyamanan dan kasih sayang dari keluarga mereka. Ibu dan
Ayah Anita memperlakukanku seperti anak sendiri. Perlakuan mereka begitu
hangat. Aku merasa nyaman berada diantara mereka. Dan aku mengajak Anita untuk
berlibur bersamaku. Ibu dan ayah Anita setuju. Dan kedua orang tuaku pun
setuju. Orang tuaku memberikan fasilitas dan ATM untuk aku pergunakan. Hotel
dan akomodasi sudah disiapkan oleh ayahku.
Tibalah waktu liburan. Aku dan Anita
berlibur ke negeri Cina. Lebih tepatnya di daerah Wuhan. Kami menikmati liburan
di sana hingga waktu liburan pun telah usai. Setelah kembali ke tanah air. Aku
dan Nita begitu bahagia. Kami mempunyai kisah untuk kami ceritakan kepada
teman-teman sekelas kami. Dan setelah beberapa hari aku mulai merasakan kondisi
badanku kurang fit. Ternyata bukan cuma aku saja yang mengalaminya Anita pun
sama. Anita mulai drop. Selama aku sakit aku di rawat dan aku menonton televisi
bahwa di Cina lebih tepatnya di daerah Wuhan mengalami kejadian luar biasa
akibat virus corona atau sering juga disebut Covid 19. Dan aku mulai ketakutan
bahwa aku dan Anita berkunjung ke daerah tersebut. Apakah aku tertular? Itu
yang ada di dalam pikiranku. Akupun memberitahukan dokter tentang liburanku.
Dokter pun mulai mengambil darah dan mengetes darah ku di dalam lab. Dan
hasilnya ternyata benar aku positif begitu jg dengan Anita. Aku dan Anita pun
ditempatkan di ruang isolasi. Betapa hancurnya hati kami libur kami membawa
bencana bukan cuma kami tetapi orang-orang di sekitar kami. Oleh: Sarinovita, SLB Negeri Nunukan.
Ganti paragraf ketiganya coba biar
lebih nendang. Quitenya TL jangan
ada.
SAKIT BIASA
DIANGGAP CORONA
Setelah menunggu beberapa jam untuk
menunggu hasil laboratorium, tiba terdengar suara langkah mendeket. "Pak,
Anda harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap alatnya, karena gejala
yang bapak miliki sudah mengarah ke virus corona." Kata seorang dokter
dengan memakai pakaian APD.
Aku hanya bisa pasrah, istriku
menangis sambil memelukku. "Bapak kuat, bapak harus tabah, kita harus
sama-sama berdoa." Kata anakku sambil menguatkanku. Setelah semuanya siap
untuk pindah rumah sakit, sebuah keajaiban pun terjadi. Seorang dokter
menghampiri kami dan menyatakan bahwa aku tidak positif corona dan bisa dibawa
pulang.
Di situlah kami semua menangis merasa lega. Aku percaya sebuah
keajaiban bisa muncul dari kekuatan doa dan semangat dari keluarga. Oleh: Arifiani Kurniasih, SDN Mentel I Tanjungsari,
Gunungkidul, D.I Yogyakarta.
Ada peristiwa yang mengejutkan gitu. Terlalu
panjang, ringkas, ambil yang pentingnya saja. Kalimat yang sama maksudnya
dihilangkan. Misalnya, ini pengalaman saya, yang saya bawa guling bukan bayi
saya.
TENTANG LUKA
Sudah terlalu lama aku menunggu.
Menantinya muncul setelah lama menghilang. Bukan hanya hitungan
hari,minggu,atau bulan,tapi bahkan tahun. Ya, tahun demi tahun aku tak bisa
menatapnya lagi. Dan ini adalah tahun ketiga sejak perpisahan kami. Rasanya
berat jika tiba-tiba aku harus berhadapan dengannya lagi dengan luka dan
kesedihan yang setiap hari menemani hari-hariku tanpanya.
"Maafkan aku." Itu adalah
kalimat pertama yang dia ucapkan.Kami memang bertemu tanpa sengaja disini, di
rumah sahabat kami,pada acara pernikahannya. Dulu kami pernah bermimpi
menggelar acara besar seperti ini. Tapi semua berakhir tatkala ia putuskan
untuk pergi jauh meninggalkannku setelah diterima bekerja di sebuah perusahaan
besar.
Aku hanya terpaku tanpa sepatah katapun. Kata maaf yang ia
ucapkan sama sekali tak menyembuhkan pedihnya hatiku. Apalagi setelah beberapa
saat muncul wanita cantik dengan kerudung jingga menggendong bayi lucu
menyusulnya mendekati kami. Aku tau siapa wanita dan anak ini tanpa dijelaskan
sekalipun. Oleh: Mariana Sri Rahayu, SDN
PLANJAN 2, SAPTOSARI, GK.
Bapak/Ibu
sepertinya waktu saya sudah habis. Izinkan saya mohon diri. Silakan
Bapak/Ibu menggali lagi potensi menulis yang mungkin selama ini kurang tergali
karena kita sama-sama sibuk mengajar selama ini.
DI PINGGIR SUNGAI
KECIL ITU
Seorang anak tiba di sungai kecil
itu. Ia duduk di pinggirannya lalu melepas pandang bagai hendak merenung. Di
tangan kanannya ada sebatang kayu yang ujungnya diikatkan tali. Pada ujung tali
dipasangi mata kail. Di tangan kirinya ia memegang sebentuk benda barang
anyaman. Isinya beberapa ekor cacing yang akan dipakai sebagai umpan di mata
kail.
Ia masih duduk di sana. Apakah akan
memancing atau tidak memancing? Pikirannya melayang sebentar. Ia tidak dapat
segera memutuskan berhubung sungai kecil itu dipenuhi sampah-sampah plastic di
permukaannya. Ia membatin: “Apakah mungkin ada ikan di dalam sungai kecil ini?
Alirannya sangat kotor?”
Sementara berpikir demikian, satu unit pikap membawa sampah. Dua
orang yang berada di pikap itu menurunkan sejumlah besar sampah dari bak pikap
itu. Keduanya lalu meninggalkan tempat itu. Si anak masih duduk di sana. Ia
telah buntu pikirannya setelah melihat peristiwa itu. Oleh: Heronimus Bani.
Ikan mas ikan
arwana
Itu cuma nama-nama
ikan
Jangan harap dapat
sepeda
Saya gak janji
apa-apa
Tubuh kita telah
lelah
Mungkin sedang
minta haknya
Kalau ada kata yang
salah
Saya mohon maaf ya
MEREKA YANG TAK
TERLIHAT
Sejak dari lahir aku telah di berikan
kemampuan yang luar biasa dari tuhan aku di anugerahi apa yang tidak bisa
mereka lihat aku sudah biasa melihat mereka orang menyebut nya sebagai mahluk
halus.
Tiba - tiba pintu depan di ketuk
tok....tok terdengar suara dari luar tapi tidak ada yang menyahut. Ku berani
kan diri untuk bangkit dari tempat tidurku menuju arah pintu depan yang di
ketuk tapi siapa di luar tidak ada jawaban.
Tiba - tiba aku kaget bukan kepalang krek pintu depan ku buka
aku terperanjak kaget Door tiba - tiba kakak sepupu ku yang mengangetkan ku aku
bercampur marah dan kesal? Mau datang kok bikin kaget aja tanyaku? Kenapa lupa
untuk mengunci pintu gerbang di malam hari aku lupa saking lelah nya aku
terlelap tidur. Oleh: Tin Mulia.
Kevin terlihat murung pagi ini. Beban
berat seakan menyelimuti raut wajahnya. Teman-temannya yang sedang bercanda
ria seolah tidak menarik baginya. Dengan langkah sedikit tertahan dia
masuk kelas sambil sesekali menghindar dari teman-temannya yang berlarian di
halaman sekolah.
Perlahan aku dekati Kevin. “Kamu
kenapa Kevin?” Kepalanya semakin menunduk. Terdengar lirih isakan tangisnya.
Dadaku berdebar kencang. Apakah sesuatu yang berat, berbahaya, menyedihkan,
atau bahkan menyakitkan telah terjadi pada anak ini?
Akhirnya dengan terbata-bata dia pun menjawab pertanyaanku. “Aku
takut kepalaku tumbuh jeruk Bu. Tadi aku makan jeruk dan bijinya tertelan.” Oleh: Nining Sulistyani P., SDN 3 Sumberporong Kecamatan Lawang
Kabupaten Malang.
JATAH SI MILKY
"Meong..meong," ini sudah
yang ketiga kalinya aku memberinya kepala ayam goreng dalam 1 jam. Si milky
sebutannya, masih saja minta jatah.
Sudah menjadi rutinitasku membeli
ayam bumbu siap goreng dari seorang pedagang keliling tiap pagi. Siap goreng
manakala si kecil tiba-tiba minta menu kesukaannya ini. Si Milky, kucing yang
tiba-tiba datang ke rumah ini, tidak pernah absen tiap kali pedagang ayam ini
singgah. Kami tidak merawat Milky, hanya bisa memberinya kepala ayam goreng 5
potong sehari.
"Baiklah Milky, ini potongan keempat untukmu." Aku
penasaran dan mengikuti kemana arahnya pergi. Tiba di belakang warung tetangga,
ada 3 anak kucing yang bewarna kuning sama seperti Milky dan 1 kucing bewarna
kecoklatan sedang menyantap potongan-potongan kecil kepala ayam goreng yang aku
beri tadi. Ternyata Milky berbagi dengan anak-anaknya dan kucing lain. Oleh: YUNI RIYANTI, SDN Porisgaga 5 Kota Tangerang.
KASIH YANG TERBUANG
Adikku kesayanganku, mereka adalah
motivasiku bekerja selama ini. Tak ada yang mengerti mereka selain diriku, kami
tumbuh bersama dan saling menyayangi tanpa kasih sayang dari ayah bunda.
Mereka sudah berdiri d kaki sendiri,
sukses dalam karir dan rumah tangga,rasanya tak ada yang kurang lagi dalam
kehidupan mereka, Allah menjawab doa-doaku.
Seperti roda berputar mereka di atas dan kini aku dibawah, hari
hariku semakin sulit, menahan rindu ingin memeluk mereka jangankan datang
berkunjung sekedar menanyakan kabar pun mereka tak ingin.
IMPIANKUN TAK
TERBATAS SEKOLAHKU
Di sebuah pelosok Negeri, Oksamol
tepatnya terdapat bangunan sekolah panggung dengan beralaskan kayu yang sudah
rapuh dan hampir roboh. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk suasana perkotaan.
Bona Ventura, seorang siswa yang
rajin dan tentunya mempunyai tekat yang kuat untuk tetap sekolah mendapatkan
ilmu. Tak terkecuali dengan kegiatan sehari-hari untuk tetap membantu
orangtuanya dengan beralatkan parang untuk mencari bahan makanan di hutan.
Bona dengan sapaan akrabnya mempunyai cita-cita untuk menjadi
Polisi. "Kenapa ko ingin jadi polisi nak?" Tanyaku. "Sa ingin
jadi Polisi karena cita-citaku tak terbatas seperti sekolahku pa guru." Oleh: Ageng Hening Hutomo, SDN Wonosari IV.
TAK SEHARUSNYA
Sontak aku bangun dengan nafas
terengah-engah. Sudah tiga malam wanita itu selalu menemuiku. Wanita yang telah
menjerat hatiku.
"Kapan kamu mau nikah?"
Pertanyaan ibu yang selalu meluncur setiap aku pulang kampung. Di usia ku yang
lebih dari kepala tiga dengan pekerjaan mapan memang layak untuk berkeluarga.
Tapi sampai sekarang belum mampu melupakan wanita yang sudah lima tahun
meninggalkanku.
Sebetulnya aku mulai menemukan sosok yang mulai bisa mengisi
hatiku. Dan kini, aku jatuh cinta pada istri orang. Oleh: TJ. EKAPUTRA, BENDUNGAN KARANGMOJO GK.
CORONA
Sejak adanya virus cantik yang
bernama Corona bukan lagi berita internasional atau pun epidemi tapi virus
cantik ini telah merubah cara keseharian hidup kami.
Di bulan Febuari 2020 kami bisa hidup
tenang dan santai tanpa memikirkan apa yang terjadi tanpa ada rasa kwatir
sedikit pun.
Namun segalanya berubah sejak pemberitaan di media televisi dan
media online bahwa virus cantik ini telah merengut nyawa manusia di dunia
ternasuk kami di indonesia suatu hal yang membuat kami tidak nyaman karena
corona dan sekarang kami berjuang dari virus cantik yang tak kasat mata ini. Oleh: Haddy Priady
AKU RINDU RUMAHMU
Sejak November 2020 lalu, tiba-tiba
makhluk mungil yang tak kasat mata telah dikirimkan oleh Tuhan sebagai
tentara-tentara yang menyerang dan menyebar di seluruh dunia. Makhluk kecil itu
tiba-tiba popular, bahkan melebihi artis dunia. Dialah yang setiap saat
disebut-sebut oleh manusia di seluruh dunia, yaitu Korona. Bentuknya memang tak
kasat mata, tapi siapa yang takut dengannya?
Setiap daerah yang dinyatakan
terpapar virus ini, dinyatakan lockdown. Bekerja di rumah, belajar di rumah,
dan ibadah di rumah. Demikian juga di kampung Tirai Bambu, desaku. Beberapa
orang dinyatakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan), PDP (Pasien Dalam
Pengawasan), dan bahkan ada yang sudah meninggal akibat makhluk kecil yang
bernama Korona ini. Hal ini menyebabkan di kampung ini dilarang untuk sholat di
Masjid, yang sebelumnya masih boleh jamaah di masjid, tetapi dengan diberi
jarak satu meter tiap jamaah dalam shof sholatnya. Hal ini menjadikan kampung
Tirai Bambu ini semakin mencekam. Tak ada yang berani keluar rumah, bahkan
untuk belanja kebutuhan sehari-hari mengandalkan jasa ojek online. Gang-gang
rumah yang dulu ramai dengan anak-anak bermain, kini menjadi lengang. Tak
terkecuali Masjidnya, sekarang sangat sepi. Meski setiap wakttu tetap
mengumandangkan adzan, namun jamaahnya sudah lengang.
Senja ini saya mencoba duduk di teras rumah, untuk menghilangkan
rasa bosan karena sudah hampir dua pekan berada di rumah. Tak terasa terdengar
kumandang adzan magrib. Tak terasa air mataku menetes. “Yaa, Robb, aku rindu
bersujud di rumah-Mu!” Gumamku dalam hati. Oleh: Kibtiyani,
SDN Turi 2 Blitar.
TERNYATA MIMPI
Selama di rumahkan kerjaku
hanya olahraga di panas matahari, beres-beres rumah, memasak untuk satu rumah,
sesudah itu bolak balik HP baca WA, FB, baca berita yang semuanya isi tentang
Corona.
Aku melihat ada sosok wanita
yang mukanya jelek,berambut panjang tapi berantakan datang dan mengatakan
ayo ikut aku, terus saya memohon jangan bawa aku karena aku tidak
mengenal kamu, wanita itu bersikeras memaksa aku dan menarik tangan ku sambil
berkata cepat ikut aku, aku berontak dan berusaha untuk melepaskan diri,
akhirnya kami dua berantem, kami berduel habis-habisan sampai ke titik yang aku
tidak mampu lagi, aku berteriak tolong aku Tuhan kemudian aku sadar eh ternyata
hanya mimpi dan wanita dalam mimpi ternyata korona yang menakutkan.
BANJIR
Oleh: Jenika Widiya
"Umi, Asyari lapar."
Teriaknya dari atas kasur di dalam kamar tidur yang pintunya sedang terbuka.
"Iya, sayang. Sebentar, ya. Umi
masak dulu." Jawab umi dari dapur. Hujan yang tak henti dari pagi sampai
malam ini membuat rumah banjir. Hal itu membuat perutnya mudah lapar. Padahal
baru saja dua jam lalu dia makan.
Air di dalam rumah sudah selutut, umi berjalan mengantarkan
sepiring nasi goreng. Sayang sekali umi terpeleset. Terpaksa umi membuat
makanan baru lagi. Karang Bahagia, Bekasi.28 Maret 2020.
Wuih, sudah dapat twist-nya. Paragraf ketiga, kalimat
langsung dirapatkan dengan kalimat selanjutnya agar tidak kelihatan 4
paragraf. Sebagai kenang-kenangan, tulisan peserta workshop ada yang saya simpan di blog saya. Maaf, tidak semua saya masukkan ke blog saya. Ini hanya sample, karena tugas utamanya Bapak/Ibu tetap
mengirimkan tugas ke email Om Jay. http://rosianafebriyanti.blogspot.com/2020/03/kumpulan-pentigraf-peserta-workshop.html.
Yolis
Y. A. Djami (Tilong-Kupang, NTT)
Selasa,
5 Mei 2020 (15.15 wita)
silahkan klik like and subscribe di https://youtu.be/6WWcFZd0oE8 jangan lupa ya ditonton!
ReplyDeleteSiap, Omjay!
Delete