MENULIS TIAP HARI & TERBITKAN BUKU


I.              Pengantar
Kuliah siang hingga menjelang sore ini akan membahas tentang Motivasi Menulis Setiap Hari dan Menerbitkan Buku. Materinya disampaikan oleh Bapak Dadang Kadarusman yang karib dipanggil Deka. Perkuliahan daring yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 15.00 wib ini dipandu oleh Bapak Bambang Purwanto yang biasa dipanggil Mr. Bams.
Selamat siang, semoga sehat semuanya dan dapat berpuasa di bulan Ramadhan yang indah ini. Assalaamualaikum, bapak Ibu sekalian. Saya berterimakasih kepada Omjay  yang telah berbaik hati mengajak saya ambil bagian dalam program pelatihan hari ini, Jumat tanggal 1 Mei 2020.
Kami persilakan kepada Om Deka untuk memberikan materi sampai pukul 14.00 wib Sisanya sampai pukul 15.00 wib untuk sesi tanya jawab. Pertanyaan hanya diajukan mulai pukul 13.45 wib.

II.           Materi Pembalajaran
Saya juga berterima kasih kepada bapak ibu guru sekalian karena berkenan untuk menyimak topik yang akan saya bawakan. Nama saya Dadang Kadarusman. Ayah saya seorang guru sekolah dasar. Ketika saya masih kecil, beliau sering membawakan buku-buku bacaan. Dari situ saya jadi suka membaca. Dan dari suka membaca itu kemudian saya berkeinginan untuk menulis. Jadi sejak kecil saya sudah menulis. Sampai hari ini, Alhamdulillah, Allah kasih saya kekuatan untuk terus menulis.
Dalam forum ini mungkin saya hanya bisa membawakan materi sedikit saja karena adanya keterbatasan ilmu saya dan hal-hal lainnya. Namun semoga yang sedikit ini bisa menjadi tambahan referensi bagi bapak ibu yang ingin meningkatkan kemampuan menulisnya. Saya rasa perkenalannya cukup sekian dulu, Om B. Jika bapak dan ibu ingin mengenal saya lebih lanjut silakan mengunjungi website saya yaitu: www.dadangkadarusman.com.
Bapak ibu ijinkan saya untuk mengkombinasikan antara menulis dengan pesan suara. Tema kita kali ini adalah tentang MENULIS SETIAP HARI dan MENERBITKAN BUKU. Saya tanya, cara apa yang tidak Anda ketahui itu? Saya tidak tahu apakah hal itu juga dihadapi oleh bapak ibu di forum ini.
Ya, cara menerbitkan buku, jawabnya.
Apa itu yang harus diperbaiki?
Pikiran dia tentang "Cara Menerbitkan buku."
Dari dialog sederhana itu kemudian saya melihat ada 1 aspek yang perlu diperbaiki pada orang yang ingin mempunyai hasil karya berupa buku. Bapak ibu ketahuilah bahwa hari ini, menerbitkan buku itu sangat mudah sekali. Beda dengan 20 tahun lalu ketika saya pertama kali ingin menerbitkan buku. Ditolak penerbit itu biasa sekali.
Sekarang tantangan terbesar kita BUKAN pada menerbitkan bukunya. Melainkan pada MENULIS SETIAP HARI-nya. Jika kita bisa menulis setiap hari, maka kita akan sampai pada titik di mana kualitas tulisan kita akan sangat menarik bagi penerbit. Kita tidak perlu mendatangi penerbit lagi mereka yang datang kepada kita.
Buku-buku saya pada umumnya adalah hasil dari penerbit datang dan menawarkan untuk menerbitkan naskahnya. Kan, enak kalau begitu. Nantinya tinggal bapak ibu mau menerbitkannya atau tidak.
Jadi, pembahasan kita kali ini akan saya fokuskan kepada cara menulis setiap harinya. Sebab saya percaya bahwa, penerbit akan mendatangi Anda jika skill menulis Anda sudah sesuai dengan yang mereka cari. Jadi pelajaran pertama, jangan lagi berpikir bahwa menerbitkan buku itu susah. Gampang bangat.
Lalu bagaimana seseorang bisa menulis setiap hari?
Yang kedua, kenapa kita perlu menulis setiap hari. Karena menulis setiap hari itu membantu menjaga keselarasan antara otot-otot tubuh kita, juga jiwa. Jadi, nanti kalau kita sudah terbiasa menulis. Melihat apapun, selalu ingin menerjemahkan apa yang kita lihat itu ke dalam bentuk tulisan. Dan itu terjadi secara refleks saja. Begitu pula ketika kita merasakan sesuatu.
Orang yang tidak terbiasa menulis, bisa saja memendam perasaan itu. Atau butuh seseorang yang mau mendengarnya padahal, belum tentu ada yang mau dengar, bukan? Tapi jika dia terbiasa menulis, maka dia selalu punya teman untuk mencurahkan perasaannya yaitu, selembar kertas dengan pena kalau dulu. Sekarang, tinggal ambil smart phone maka kita bisa mencurahkannya di sana.
Yang ketiga. Menulis setiap hari itu merupakan healing remedy. Jadi, jika terbiasa menulis, kita bisa menjadi pribadi yang lebih sehat. Kesimpulannya, kenapa perlu menulis setiap hari adalah: Karena seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya. Melainkan orang yang memiliki kemampuan untuk menuliskan sendiri naskahnya secara mandiri.
Bagimana kemampuan itu diasah? Dengan cara berkomitmen untuk tidak melewatkan 1 hari pun dalam hidup kita TANPA MENULIS. Jadi, bapak ibu sekalian. Jika Anda sungguh-sungguh ingin menjadi penulis handal, mulai sekarang Berkomitmenlah untuk menulis setiap hari.
Seberapa banyak?
Kalau saya pribadi, 1 hari 1 artikel. Nah kalau ukurannya jumlah artikel, berarti tidak ditentukan jumlah katanya. Jaman dulu kalau kita mau mengirim artikel ke koran, itu ada ketentuan jumlah kata. Hal itu membuat penulis pemula kesulitan. Kenapa? Karena bukan hal yang mudah untuk menuangkan gagasan secara indah dengan jumlah kata yang ditentukan. Maka bagi saya, ukurannya adalah "1 Artikel."
Artikel itu apa? Sebuah paparan yang memuat buah pikiran penulis sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Begitu ukurannya. Jadi, yang penting dalam 1 hari itu ada karya tulis bapak ibu yang "KALAU" dibaca orang lain, mereka akan memahaminya.
Oya, kenapa saya pakai kata KALAU? Karena, belum tentu ada orang yang membaca artikel itu. Aduh, sedih banget, ya. Sudah cape-cape nulis tapi kok nggak ada yang baca. Nah, ini penting bapak ibu. Di tahap belajar ini, sebaiknya kita tidak terlalu baper soal ada yang baca apa nggak. Kenapa? Karena kalau orang lain baca pun belum tentu feedback-nya positif. Tidak sedikit orang yang berhenti menulis karena pembacanya memberi feedback negatif. Jadi, yang penting menulis saja dulu. Kalau tulisannya sudah memenuhi standar minimal untuk dibaca orang, YAKIN DEH bakal dibaca.
Setelah membahas tentang WHY, yang berhubungan dengan proses membiasakan diri dalam menulis itu. Sekarang kita bahas WHAT-nya. WHAT makes you write something? Apa, sih yang menjadi mendorong Anda untuk menulis?
Pertanyaan ini sederhana. Tapi orang yang tidak menemukan jawaban yang tepat, akan berhenti di tengah jalan. Jadi mari kita tanyakan kepada diri sendiri dulu apa yang mendorong kita menulis. Dengan kata lain, apa sih tujuan kita menulis?
Contoh. Ada orang yang menulis agar mendapatkan uang? Ada. Dulu, saya pernah berada di level itu. Saya menulis untuk mendapatkan uang, karena saya butuh untuk biasa sekolah. Apakah saya berhasil? Lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Lebih banyak naskah yang dikembalikan redaksi daripada diterbitkan. Saat itulah kemudian saya sadar bahwa, menulis karena ingin mendapatkan uang; bukanlah nilai pribadi saya. Dan sampai sekarang, saya menulis BUKAN untuk uang.
Bapak ibu boleh nggak menjadikan uang sebagai pendorong utama dalam menulis? Boleh saja. Tidak masalah. Tapi nanti seiring berjalannya waktu kita akan menemukan apa dorongan yang paling cocok buat kita
Kedua, menulis dengan dorongan INGIN BERBAGI PENGETAHUAN. Nah, yang ini menurut hemat saya paling sesuai dengan jiwa pendidik seperti kita.
Dulu ketika saya menulis karena uang, kadang saya kecewa karena penerbit menolak. Seperti diremehkan oleh mereka deh rasanya. Kita juga bisa kecewa jika bayarannya ternyata tidak seperti yang kita harapkan. Royalti penulisan buku misalnya.
Lalu kalau menulis setiap hari idenya dari mana? Ini pertanyaan banyak orang. Ini penting saya sampaikan. Bapak ibu,  segala hal yang bisa ditangkap oleh panca indra kita adalah sumber ide. Tinggal kita olah saja. Pegang teguh prinsip itu. Berapa banyak rangsangan yang masuk ke dalam sistem pancaindra dan indra ke 6 kita? Jumlah rangsangan itu TAK TERHINGGA. Maka itu berarti bahwa sumber ide penulisan kita bisa SANGAT banyak
Contoh. Hal apa yang bapak ibu tangkap dengan panca indra sekarang? Ada bunyi AC? Itu sumber ide. Ada suara seseorang yang lewat di depan rumah? itu sumber ide. Ada bunyi PRAAAANG! gara-gara panci jatuh? semua sumber ide.
Dan ide itu, hanya butuh sentuhan berupa mengolah pikiran yang kemudian menuangkan hasil olah pikir itu kedalam tulisan. Karena rangsangan itu selalu ada setiap hari, maka kita semua sebenarnya bisa menulis setiap hari. Saya kira itu pengantarnya dari saya. Setiap saat ada ide di sanalah sumber tulisan kita.
Om Deka dalam sesi tanya jawab. Nanti setiap pertanyaan langsung Om Jawab. Setiap pertanyaan akan diberikan kode P1 hingga seterusnya. Bila Om Deka sudah selesai menjawab mohon di chat terakhir tuliskan huruf N, sebagai tanda boleh melanjutkan ke pertanyaan berikutnya. Terima kasih.

III.        Tanya Jawab
Pertanyaan 1 dari Saya Dwi Mulyanti, Dr SMKN 1 Kademangan Kab. Blitar: “1. Berapa lama pengalaman bapak mengasah menulis hingga akhirnya dipercaya oleh penerbit seperti sekarang ini? 2. Sebagai permulaan, Seperti apa strategi dan Tips memilih penerbit yang sesuai dengan buku yang akan kita terbitkan?
Saya mulai menulis sejak SD. Aktif sekali di SMP sampai ikut lomba-lomba. Berarti sudah sekitar 40 tahun menulis. 1. Kapan mulai dipercaya oleh penerbit? Sekitar 10 tahun lalu. Jadi butuh 30 tahun perjalanan terlebih dahulu. Ada tapinya. Kondisi saya dulu beda dengan sekarang. Dulu, penerbit hanya sedikit. Dan mereka punya bargaining power yang sangat tinggi. Maka mereka sulit ditembus. Sekarang, ada Sangat banyak penerbit. bahkan menerbitkan sendiri pun bisa. Sehingga Bu Dwi tidak butuh waktu selama saya untuk diercaya penerbit. 2. Kalau kita masih pemula, sebaiknya tidak usah menerapkan terlalu banyak kriteria penerbit. Karena kita yang masih pemula butuh mereka. Strateginya paling gampang adalah: Ibu terus ikut kursus menulis seperti sekarang ini.
Pertanyaan 2 dari Syukri, Padang: “1. Menulis setiap hari kalau dipaksakan mungkin bisa. Tapi tentang temanya apakah harus terstruktur atau bagaimana? 2. Berapa banyakkah yang harus kita tulis per hatinya? 3. Berapa lama tulisan tersebut kita kumpulkan?
Betul pak, kalau dipaksa bisa. Tapi, 'paksaan' adalah sebuah proses yang efektif untuk mendisiplikan seorang pembelajar yang belum memiliki 'refleks menulis' sendiri. Saya misalnya, sudah mulai menulis sejak SD. Tapi menulis setiap harinya baru setelah bekerja di bidang HR. Bahkan bagi yang sudah biasa menulispun butuh dipaksa. 1. Mengenai tema. Dalam tahap belajar TIDAK USAH KHAWATIR SOAL TEMA dan sistematika penulisan. Pokoknya nulis saja. Tidak usah takut salah. Toh ini bukan UN, kan? Kalau saya bicara dengan penulis yang sudah pro, saya menuntut mereka hasil karya yang pro. Tapi, bagi pembelajar, yang terpenting adalah kemauan untuk terus praktik menulis. Lalu, bersedia mendengar masukan dari orang lain untuk perbaikannya. 2. Berapa banyak perhari? Targetkan 1 karya tulis. Sepanjang apa? Berapa kata? Bebas. Yang penting, karya tulis itu bisa menampung buah pikiran sehingga pembaca mengerti. Contoh, jika kita ingin menulis dengan tema "PANTANG MENYERAH" misalnya. Tulisan bapak tidak usah 1000 kata. Cukup 2 atau 3 paragraf saja. Lalu, minta orang lain baca. Jika mereka bisa menerima atau mengerti ide yang ingin bapak sampaikan, berarti tulisan itu sudah menjadi 1 artikel. Nanti, panjang dan bobot tulisannya pelan-pelan ditingkatkan. 3. Tidak ada standar berapa lama masa pengumpulan. Kecuali jika bapak punya kontrak dengan penerbit. Misalnya disepakati dalam 2 bulan naskah harus selesai. Kalau bapak menulis untuk tujuan lain, maka waktunya bisa beda lagi.
Pertanyaan 3 dari Heni Ekawati, S.Pd., M.Pd., SLB. B YPAC BANDA ACEH: “Dari mana awalnya saya bercerita bila ingin menuliskan tentang kisah Anak Istimewa yaitu Dunia Tanpa Suara?
Itu topik yang keren. Dari kalimat "DUNIA TANPA SUARA" saja sudah mengundang pertanyaan orang. "Apaan sih maksudnya?" Saya contohkan. Saya akan memulai sebuah tulisan dengan tema itu. Nanti bisa ibu lihat bagaimana mengawali tulisannya. Paragraf 1: Hey, kamu. Pernahkah kamu membayangkan bagaimana seandainya tidak seorang pun bersuara di dunia ini? Tentu akan sepi sekali harimu kan? Tapi, bisakah kamu membayangkan seandainya hal itu benar-benar terjadi? Sekarang, coba pejamkan matamu. Lalu bayangkan. Andai saja tak segencring suara pun tertangkap pendengaranmu.
Sekarang, bisakan Ibu Heni lajutkan? Silakan, Bu Heni lanjutkan dengan tulisan sendiri. Dan saya akan melanjutkan dengan tulisan saya.
Paragraf 2: Eh. Tapi menurut kamu apakah mungkin telingamu benar-benar tidak bisa mendengat bahkan sekedar bunyi 'ting' pun? Nggak ya. Nggak mungkin kamu nggak dengar bunyi anakku. Tahu kenapa? Karena ketahuilah sayang, bahwa Allah sayang banget sama kamu. Sehingga engkau bisa mendengar berbagai macam suara. Bu Heni lanjutkan punyamu ya.
Paragraf terakhir saya begini: Nak. Kamu sudah bersyukurkah dengan karunia indah itu? Karena ada loh, di desa sebelah. Seorang gadis yang tidak seberuntung kamu, sayang. Tapi sejak lahir sampai usianya yang menginjak 15 itu, tidak pernah mendengar apapun di telinganya selain hening semata. Hebatnya, gadis itu tidak pernah mengeluh, nak. Tidak pernah pula sekalipun dia bersedih. Pokoknya apa, ya. Ehm, ibu...ibu kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kemuliaan dirinya di balik heningnya dunianya. Jika kamu tidak keberatan saying, bolehkan bu mencari tahu lebih banyak tentangnya dan menceritakan kisah indah tentang gadis itu kepadamu hari Jumat nanti?
Sudah sampai pesannya nggak dengan 3 paragraf itu? Minimal ada 1 gagasan yang sudah sampai kepada pembaca. Dan di ujung ceritanya, ada 'komitmen' untuk melanjutkan.
Kesimpulan: orang bilang memulai itu sulit sekali. Kalau saya bilang: MULAI SAJA SARI SEBUAH KATA yang terlintas dalam pikiran Ibu. Insya Allah, nanti akan mengalir dengan sendirinya. Dan kalau saya, biasanya sebelum menulis bilang begini: Ya, Allah, apa yang saya harus tuliskan hari ini? Bimbing saya, ya, Allah.
Pertanyaan 4 dari Eti Haryati, Bogor: “Saya baru tahu adanya Ghostwritter itu. Tapi saya ingin menerbitkan buku itu kalau hasil dari tulisan saya sendiri. Yang menjadi hambatan saya selalu tidak pede ketika ingin mulai menulis. Seakan ide itu hilang. Bagaimana caranya supaya tetap semangat menulis dan supaya ide itu tidak hilang?
Keren. Ijinkan saya menambahkan bahwa menggunakan jasa "GHOSTWRITER" itu bukan hal yang buruk. Tapi itu cocoknya hanya untuk mereka yang hanya ingin menerbitkan buku. Kalau kita ingin menjadi penulis terampil, maka itu bukan opsi yang tepat. Mengenai tidak pede. Itulah sebabnya tadi saya sampaikan bahwa dalam proses latihan menulis, kita tidak perlu terikat dengan target berapa jumlah kata. Kalau di sekolah dulu ada pelajaran mengarang. Ibu gurunya bilang panjang tulisan minimal 1500 kata. Widiiih, bagi pemula mah pusing banget. Jadi nyantai aja. Dan tadi kita bahas juga tentang, tidak usah baperan dengan respon orang terhadap kualitas tulisan kita. Kita cuek maksudnya? Bukan. Tapi, kita harus menerima diri sendiri sebagai orang yang baru belajar. Jadi, kalau pun tulisan kita 'tidak laku' ya nggak apa-apa. Kan baru belajar. Latih saja terus. Bikin tulisan terus. Kalau belum berani menunjukkan tulisan itu pada orang lain, biarin aja jadi koleksi pribadi kita. Sambil terus memperbaiki tekniknya. Nanti kalau sudah ada tulisan yang 'layak' dicobain ke orang lain, tunjukkan saja. Kalau bisa, pilih orang yang tidak akan bersikap negatif.
Kesimpulan: Banyak orang tidak pede saat mau menuangkan gagasan lewat tulisan. Saya bilang, boleh jadi seseorang sedang menanti buah pikiranmu untuk dibacanya dengan penuh kekaguman. Jadi, menulislah.
Pertanyaan 5 dari Agus Purwadi, Ponjong: “Dalam menulis sebuah buku apakah kita menentukan judul baru menulis artikel-artikel yang berkaitan dengan judul atau kita menulis artikel-artikel dulu baru diberi judul?
Dulu, buku saya "OUTSHINE" diberi judul duluan baru naskahnya ditulis belakangan. Sedangkan buku "KETIKA SEMUT DAN GAJAH BEKERJA" ditulis naskahnya duluan. Jadi, tidak ada keharusan menulis judul dulu atau naskah duluan.
Pertanyaan 6 dari Isar Daduki: “Saya coba menulis di kompasiana namun yang membacanya tidak begitu banyak. Apakah tulisan-tulisan itu bisa dijadikan buku kompilasi?
Kalau sebuah tulisan sedikit yang baca, TIDAK BERARTI tulisannya tidak bagus. Bisa saja tempat penayangannya yang kurang tepat. Tulisan-tulisan bapak bisa dibuat kompolasi. Kalau ketemu audiens yang tepat, tentu akan banyak yang membacanya.
Pertanyaan 7 dari Isminatun, Sukoharjo: “Bagaimana menjaga keistiqomahan menulis setiap hari? Sebab bagi saya kadang semangat menulis, kadang luruh semangatnya?” Terima kasih.
Itulah pentingnya menemukan WHAT MAKES YOU WRITE yang tadi kita bahas. Karena hal itu akan menentukan tingkat istiqomah kita. Tapi jawaban dari WHAT tadi sifatnya individual. Kalau kita menulis karena uang, maka bakal berhenti ketika hasil karya kita nggak jadi uang banyak. Tapi kalau kita punya alasan yang lebih tinggi lebih mulia lebih bernilai Insya Allah akan istiqomah. Saya, misalnya. Sekarang menulis lebih karena ingin agar Allah mengajari saya sesuatu. Lalu yang Allah ajarkan itu saya bagikan kepada orang lain. Dengan itu, maka saya selalu tanya; Ya Allah, hari ini saya bisa belajar apa? Dapat jawabannya. Dituliskan lalu dibagikan. Makanya sekarang saya justru lebih tertarik untuk menulis artikel setiap hari kemudian diberikan secara free daripada memikirkan menerbitkan buku. Dengan demikian, maka gagasan saya bisa lebih cepat sampai kepada orang lain. http://ieiezarticle.blogspot.com/2020/05/menulis-sedari-kecil-dan-sampai.html.
Bapak Ibu, menulis itu buat diri kita sendiri. Bukan buat orang lain. Jadi, berikanlah yang terbaik kepada tulisan kita sendiri. Sehingga mendapat yang terbaik dan kita berikan. Sedangkan para pembaca, adalah pihak yang ikut menikmati manfaatnya. Dengan begitu, maka lewat tulisan, kita menjadi pribadi yang lebih baik terlebih dahulu. Sambil mengajak orang lain untuk menemani perjalanan menuju perbaikan diri itu. Jadi, teruslah menulis. Karena dengan menulis, engkau melayani diri sendiri dan memberi manfaat kepada orang lain.
Wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Om Deka. Terima kasih Om Jay. Terima kasih semuanya. Saya Mr. Bams undur pamit, mohon maaf lahir bathin apabila ada kelurangan. Saya kembalikan ke Om Jay.



Yolis Y. A. Djami (Tilong-Kupang, NTT)
Jumat, 1 Mei 2020 (18.10 wita)

Comments

Popular posts from this blog

BERIRING

AKU ADA SEBAGAIMANA AKU ADA KARENA MEREKA ADA BAGIKU

CINTA=KENTUT