RENANG

Aku kurang senang dengan olahraga yang satu ini, renang. Ketidaksenangan itu sudah ada semenjak aku duduk di sekolah menengah. Dasar keenggananku berenang sangat sepeleh. Dingin. Ditambah pula ketika di sekolah menengah, kami tidak diajarkan secara benar bagaimana seharusnya berenang. Teknik dasarnya tidak diajarkan, tapi kami diharuskan bisa berenang. Setiap kali jam renang, guru kami mengincar mereka-mereka yang tidak bisa renang untuk dicemplungkan ke dalam kolam dan dibiarkan. Yang berusaha menyelamatkan diri ke pinggir didorong lagi. Begitu seterusnya.

Aku tidak termasuk anak-anak yang didorong paksa oleh guruku ke dalam kolam tanpa rasa belas kasih. Sebab aku memang bisa berenang. Aku bisa  karena selalu melakukannya setiap kali mandi di kali di belakang rumahku. Jadi aku sanggup mengapung, bahkan mampu meragakan gaya bebas dan gaya katak walau tidak sempurna. Intinya, aku bisa mempertahankan badan tetap di permukaan air dan membawanya dari satu sisi sampai ke sisi kolam yang dituju. Nanti ketika menjadi guru baru aku perhalus semua gaya secara baik. Mau tidak mau aku harus menguasainya sebab aku harus mengajar mentransferkannya lagi ke anak-anak muridku.

Karena pengalaman bersama guru renangku yang sudah kuceritakan tadi maka saat aku jadi guru aku telah bertekad untuk tidak mencontoh dan mengulangi apa yang dibuat seniorku di masa silam itu. Aku mengajarkan mereka dari hal yang paling dasar sampai sebisa mungkin semua anak bisa berenang dengan baik. Sekalipun aku telah memberikan yang terbaik agar anak-anakku mampu berenang semuanya. Kenyataannya masih ada yang tidak bisa. Tak ada gading yang tak retak, kata pepatah.

Aku punya satu murid kelas tiga sekolah dasar waktu itu. Dia rajin ke kolam renang. Malah tak pernah tidak hadir. Tapi setelah sampai kolam renang dia tidak mau ikut berenang. Yang dilakukannya hanya duduk di pojok tembok menyaksikan semua temannya bergembira menikmati air. Saya selalu memantaunya berjongkok sendirian dengan wajah takut dan bibir berwarna kebiruan. Tapi tidak tergambar di kepalaku bagaimana caranya membawa anak ini masuk air. Aku tidak mau paksa dengan kuasa seperti seniorku itu.

Sampai suatu saat kami berenang lagi dan dia masih berlaku yang sama. Duduk di pojok sendiri dengan muka gugup dan bibir gemetar kebiruan. Setelah mengajarkan yang lainnya dan waktu bebas. Kuhampiri dia, sebut saja John, lalu kuulurkan tangan dan meraih tangan kecilnya. Kami berjalan ke pinggir kolam. Aku merasakan betapa takutnya karena genggamannya makin kencang di tanganku. Kami berdua duduk berdampingan di tembok pembatas air kolam dengan kedua kaki kami terendam. Aku tidak menanyakan hal tentang renang, tetapi yang berhubungan dengan dirinya.

“Kamu tinggal di mana?” Tanyaku sambil mengambil air dengan kedua telapak tangan dan membasahi badan.  Dengan cara itu, aku sengaja juga melemparkan air ke badan dan mukanya. Begitu seterusnya berkali-kali. Dia pucat. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Sambil terus bercerita.

“Di komplek perumahan sebelah, Pak!” Jawabnya seraya mengusap wajahnya yang terciprat air dari ulahku.

“Ke sini sama siapa?”

“Mama!”

Makin lama makin terbiasa dengan cipratan air. Maka kuturun ke dalam kolam. Kebetulan dalamnya hanya setinggi dadaku. Aku menggendongnya lalu berjalan dalam air di sepanjang pinggir kolam. Aku tetap dan terus menanyakan apa saja sekedar mengalihkan perhatian dan rasa takutnya. Walaupun begitu, pelukannya kencang sekali. Dia belum rileks. Aku terus jalan tidak memperdulikan ketakutannya. Sesekali aku menekuk kaki sehingga dia ikut tercelup. Setelah beberapa menit di air aku lepas tangan, tidak memeluknya. Lama kelamaan dia mulai berani. Tangannya mulai renggang dan seterusnya dia juga ikut melepaskan diri dariku lalu bermain sendiri. Sejak saat itu dia rajin berenang dan sangat gemar dengan olahraga air ini.

Seandainya aku tak merelakan diri menjemputnya dari pojokan, maka mungkin hingga kini dia tak mampu berenang. That is the meaning of teaching is touching!


Yolis Y. A. Djami (Tilong-Kupang, NTT)
 Kamis, 23 April 2020 (22.55 wita) 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

BERIRING

AKU ADA SEBAGAIMANA AKU ADA KARENA MEREKA ADA BAGIKU

CINTA=KENTUT