KELOR

Kelor alias merunggai atau kalau di Kupang kami menyebutnya marungga memiliki nama ilmiah moringa oleifera. Bagian kelor yang dimanfaatkan adalah daun dan buahnya. Menurut para pakar kesehatan kelor bermanfaat untuk menjaga kadar gula tubuh dan sebagai antioksidan. Sadar akan  kaya fungsi juga memiliki nilai ekonomis tinggi itu maka Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, memerintahkan masyarakatnya untuk menanam membudidayakan pohon kelor dengan cara membagi-bagikan bibit yaitu biji kelor secara gratis. Sekedar pengantar.

Pembaca sudah sering mendengar ungkapan: “Dunia tak selebar daun kelor.” Peribahasa ini menasihatkan agar kita jangan berputus asa dalam menghadapi keadaan atau kegagalan karena masih banyak pilihan di alam semesta yang luas ini. Tapi saya malah merasa sebaliknya. Dunia ini sempit. Hanya selingkaran daun kelor saja. Ini saya alami melalui anak perempuan saya.

Kakak, demikian kami memanggil putri tunggalku yang sebenarnya bernama: Lorrinne Apriliya Yulistha Djami. Kubilang dia putri tunggal karena dia satu-satunya anak perempuan yang mempunyai seorang adik laki-laki. Dia bekerja di Universitas Bina Nusantara Jakarta sejak tahun 2013 lalu hingga kini. Dia tergabung di Devisi Keuangan dengan tugas mendata menata keluar masuk keuangan secara administratif di lembaga tersebut, Binus.

Di suatu kesempatan bincang-bincang ringan semi resmi, senior yang sekaligus bosnya melontarkan pertanyaan dan pernyataan yang mengejutkan. Mengejutkan karena pertanyaan dan pernyataan dalam percakapan itu tidak ada hubungan dengan pekerjaan yang mereka emban.

“Lorin, gue boleh nanya sesuatu gak?”

“Siap! Asalkan gak berat. Apa tu, Pak?”

“Gue cuma mau nanya sehubungan dengan nama belakang kamu. Kalau marga sama ada kemungkinan kenal gak? Soalnya gue familiar dengan nama itu. Malah kenal banget orangnya.”

"Tergantung, Pak! Kenapa emangnya?"

“Gak. Gue baca marga kamu di email baru gue ngeh. Kok kayak orang yang gue kenal.”

“Oh. Siapa, Pak? Marga Djami emang banyak.”

“Guru gue. Ulang tahunnya 1 Januari yang gue ingat.”

“ Namanya Yolis Djami?”

"Iyah. Iyah. Bener!"

“Lah, itu ma Papa saya, Pak!”

“Yang benar kamu?”

“Suwer. Serius, dia Papa saya. Atuh, masa bohong!”

“Dunia sempit banget, ya! Papa kamu tu jago. Gara-gara Papa kamu gue mau dan suka olahraga. Dia juga yang ngajarin gue bisa bermain voli dan basket dengan baik. Salam Papa, ya!”

"Widiih...Siap, Pak!"

Anakku menyampaikan semua percakapannya dengan bosnya yang bernama Budhy Triatma ke saya tak bersisa. Bangga sekali rasanya saya mendengar penyampaian itu. Bangga karena seorang bos sekaliber dia masih mengingat gurunya yang tidak ada apa-apanya dibanding dirinya. Selain itu, juga karena terakhir saya mengajarnya sekitar tahun 1994. Dan dia masih mengingat nama dan ulang tahun saya dengan baik sekalipun pertemuan kami telah terjeda ruang dan waktu selama Sembilan belas tahun. Terima kasih tulus saya kepada pak Budhy Triatma, mantan murid yang juga mantan bos anak saya.

Sungguh, dunia hanya selebar daun kelor. Semoga anak-anak muda Indonesia tidak melupakan jasa mantan-mantan gurunya yang pernah mengajar mereka di masa silam.


Yolis Y. A. Djami (Tilong-Kupang, NTT)
Minggu, 19 April 2020 (21.10 wita)

Comments

Popular posts from this blog

BERIRING

AKU ADA SEBAGAIMANA AKU ADA KARENA MEREKA ADA BAGIKU

CINTA=KENTUT