AIR
Rasanya, bukan rasanya, saya sangat percaya Anda akan sepakat dengan saya bahwa air itu kebutuhan primer dan vital juga vatal. Karena setiap makhluk dari belahan bumi mana pun pasti membutuhkan air. Tanpa air makhluk hidup sekarat, bahkan mati.
Air diperlukan untuk berbagai aktivitas hidup, seperti: minum, masak, mandi, cuci, bersih-bersih, siram tanaman dan lain sebagainya. Sederhananya, sebagian hidup manusia dan makhluk hidup lainnya memerlukan air. Tak dapat ditawar.
Sebagai lanjutan cerita, kemarin kami (saya, Ano dan Jun) membersihkan bak penampung air. Hari ini saya mengisinya kembali untuk dimanfaatkan demi kelangsungan hidup beberapa pekan ke depan.
Ijinkan saya "menapak tilas" satu kejadian puluhan tahun silam. Begini.
Masih kental di ingatan saya suatu siang di tahun 1971 dalam perjalanan bersama keluarga ke Raknamo desa tujuan kami - yang beberapa tahun lalu Presiden Jokowi meresmikan sebuah bendungan besar, BENDUNGAN RAKNAMO. Kami berangkat dari Noekele yang secara geografis berada di selatan Raknamo. Kala itu alat transportasi yang paling banyak adalah kuda. Dan kami tidak punya kuda sehingga hanya dengan kaki menopang dan membawa tubuh masing-masing plus barang bawaan. Jarak tempuhnya antara sembilan sampai dua belas kilometer.
Ketika tiba di suatu daerah yang banyak ditumbuhi kayu putih (batangnya berwarna putih sehingga kami menamainya begitu. Entah apa nama ilmiahnya? Bila teman-teman pembaca yang budiman mengetahuinya, sudilah kiranya memberitahukan saya). Kembali ke laptop! Saat itu saya kehausan yang tak tertahankan. Puji syukur, secara tak sengaja mata saya melihat sebuah sumber air. Tapi airnya keruh, maka saya pinjam saputangan almarhum Papa lalu membentangkannya di permukaan dan menyeruput hirup sedapatnya. No problema, yang penting bisa melegakan tenggorokan yang kerontang.
Setelahnya, sesudah sirna dahaganya baru saya tanya Papa: "Itu tempat apa, kok airnya gitu?" Kata Papa dengan ekspresi ringan tanpa beban: "Tempat kubangan kerbau." Ya, ampiun! OMG, seperti desisan melineal jaman now! Ya, sudahlah. Apa boleh buat, sudah terlanjur. Dia sudah menyatu dengan darah dan daging saya. Tak ada masalah. Buktinya saya masih ada hingga kini dan menceritakannya kembali pada Anda sidang pembaca yang telah bermurah hati mengikuti cerita remeh temeh ini.
Jadi teman-taman, air itu penting. Perlakukanlah ciptaan Tuhan ini dengan bijak bestari. Kenapa? Karena di Indonesia saja masih banyak daerah kekurangan air. Salah satunya, Tilong, tempat saya saat ini berdiam. Kami harus mandapatkannya melalui jasa mobil-mobil tangki berkapasitas lima ribu liter. Padahal teman, kami memiliki Bendungan Tilong yang diresmikan Presiden kala itu, Ibu megawati Soekanoputri. Bendungan penampung, penyedia dan penyalur air bersih yang pipa-pipanya melintasi kampung kami tercinta. Tapi entah ke mana airnya mengalir? Setiap saat kami hanya menyaksikannya "melenggak-lenggok" melengos dengan congkak di depan mata kami sambil berkata dalam bahasa Timor: "Haim kon koen!" Bila dibahasakan dengan logat Jakarta: "Kami lanjut ja deh. Gak mampir."
Kiranya pantaslah saya berhenti berkeluh bernegatif. Sebaliknya, inilah doa kami, masyarakat Tilong, semoga para petinggi mempedulikan ini. Hopefully some day!
Tilong-Kupang, 14 April 2020 (11.21 wit)
Air diperlukan untuk berbagai aktivitas hidup, seperti: minum, masak, mandi, cuci, bersih-bersih, siram tanaman dan lain sebagainya. Sederhananya, sebagian hidup manusia dan makhluk hidup lainnya memerlukan air. Tak dapat ditawar.
Sebagai lanjutan cerita, kemarin kami (saya, Ano dan Jun) membersihkan bak penampung air. Hari ini saya mengisinya kembali untuk dimanfaatkan demi kelangsungan hidup beberapa pekan ke depan.
Ijinkan saya "menapak tilas" satu kejadian puluhan tahun silam. Begini.
Masih kental di ingatan saya suatu siang di tahun 1971 dalam perjalanan bersama keluarga ke Raknamo desa tujuan kami - yang beberapa tahun lalu Presiden Jokowi meresmikan sebuah bendungan besar, BENDUNGAN RAKNAMO. Kami berangkat dari Noekele yang secara geografis berada di selatan Raknamo. Kala itu alat transportasi yang paling banyak adalah kuda. Dan kami tidak punya kuda sehingga hanya dengan kaki menopang dan membawa tubuh masing-masing plus barang bawaan. Jarak tempuhnya antara sembilan sampai dua belas kilometer.
Ketika tiba di suatu daerah yang banyak ditumbuhi kayu putih (batangnya berwarna putih sehingga kami menamainya begitu. Entah apa nama ilmiahnya? Bila teman-teman pembaca yang budiman mengetahuinya, sudilah kiranya memberitahukan saya). Kembali ke laptop! Saat itu saya kehausan yang tak tertahankan. Puji syukur, secara tak sengaja mata saya melihat sebuah sumber air. Tapi airnya keruh, maka saya pinjam saputangan almarhum Papa lalu membentangkannya di permukaan dan menyeruput hirup sedapatnya. No problema, yang penting bisa melegakan tenggorokan yang kerontang.
Setelahnya, sesudah sirna dahaganya baru saya tanya Papa: "Itu tempat apa, kok airnya gitu?" Kata Papa dengan ekspresi ringan tanpa beban: "Tempat kubangan kerbau." Ya, ampiun! OMG, seperti desisan melineal jaman now! Ya, sudahlah. Apa boleh buat, sudah terlanjur. Dia sudah menyatu dengan darah dan daging saya. Tak ada masalah. Buktinya saya masih ada hingga kini dan menceritakannya kembali pada Anda sidang pembaca yang telah bermurah hati mengikuti cerita remeh temeh ini.
Jadi teman-taman, air itu penting. Perlakukanlah ciptaan Tuhan ini dengan bijak bestari. Kenapa? Karena di Indonesia saja masih banyak daerah kekurangan air. Salah satunya, Tilong, tempat saya saat ini berdiam. Kami harus mandapatkannya melalui jasa mobil-mobil tangki berkapasitas lima ribu liter. Padahal teman, kami memiliki Bendungan Tilong yang diresmikan Presiden kala itu, Ibu megawati Soekanoputri. Bendungan penampung, penyedia dan penyalur air bersih yang pipa-pipanya melintasi kampung kami tercinta. Tapi entah ke mana airnya mengalir? Setiap saat kami hanya menyaksikannya "melenggak-lenggok" melengos dengan congkak di depan mata kami sambil berkata dalam bahasa Timor: "Haim kon koen!" Bila dibahasakan dengan logat Jakarta: "Kami lanjut ja deh. Gak mampir."
Kiranya pantaslah saya berhenti berkeluh bernegatif. Sebaliknya, inilah doa kami, masyarakat Tilong, semoga para petinggi mempedulikan ini. Hopefully some day!
Tilong-Kupang, 14 April 2020 (11.21 wit)
Mantap
ReplyDeleteTerima kasih, Bang Edsa Manora.
Delete